Allah Melawat UmatNya – Lukas 1 : 67-79

Allah Melawat UmatNya

Lukas 1 : 67-79

Tidak semua orang beriman selalu yakin. Seorang imampun bisa ragu, lihat Zakharia ia adalah pelayan Tuhan, ia mengenal firman sejak lama, ia berdiri di bait Allah melayani sesuai tata ibadah. Sebagai imam ia mengenal Taurat tetapi ketika janji Allah datang ia berdiri ditempat keraguan. Tempat keraguan membawanya ke proses pemurnian iman, keraguan yang terjadi tidak membuat Allah meninggalkannya. Keraguan itu lahir bukan dari pemberontakan, melainkan dari realitas hidup yang terlalu lama menunggu atau bergumul. Lihat usianya, lihat pergumulannya, doa yang bertahun-tahun terasa tidak dijawab. Meskipun hal ini terjadi dalam hidup zakharia, ia tidak lari dari Allah ketika ia ragu. Ia tidak meninggalkan pelayanan, ia tetap berada di tempat yang Tuhan percayakan kepadanya.

Allah tidak menunggu iman zakharia sempurna baru bertindak, justru didalam kesetiaan yang rapuh itulah Allah turut bekerja. Allah sangat jelas bekerja ditengah keraguan. Ketika waktuNya telah genap keraguan tidak lagi berbicara yang terdengar hanyalah pujian dan pengakuan iman atas lawatan Tuhan kepada umatNya. Peristiwa Advent mengingatkan kita, bahwa keraguan bukan alasan kita untuk menjauh, melainkan ini undangan untuk bertahan dan tetap setia menunggu. Keraguan bukan musuh utama kita, yang paling berbahaya adalah tinggal disana dan menolak untuk taat. Hanya dengan ketaatan yang dapat memindahkan kita untuk yakin dan percaya. Terlebih di dunia modern yang sinis banyak orang berhenti ditempat keraguan.

Pada awalnya keraguan zakharia membuat imannya kehilangan arah, buktinya ia tidak tahu harus melangkah kemana. Keraguannya membuat ia berhenti berharap, sehingga ia menjadi bisu ketika keraguan ada dalam hidupnya. Perlu untuk kita ketahui, kebisuan zakharia bukan hukuman semata melainkan ini ruang sunyi dimana Allah bekerja. Didalam keheningan itu zakharia belajar mendengar lebih banyak, imannya kembali dimurnikan dan egonya direndahkan.

Allah tidak menonton dari jauh, ia mengunjungi, bukan sekedar melihat, ia hadir dengan tindakan, serta turun tangan di tengah penderitaan umat. Penderitaan manusia dijawab dengan tindakan keselamatan yang konkret. Penderitaan manusia tidak dilupakanNya, air mata mereka tidak diabaikan. Allah datang menyinari, bukan sekedar mengamati gelapnya hidup manusia. Kegelapan dalam kitab lukas bukan cuma kemiskinan, penjajahan, ketidakadilan, tetapi gelap dalam lukas gambaran ketakutan, putus asa, rasa ditinggalkan serta bayang-bayang maut.

Zakharia yang dulu ragu, kini bernubuat dengan keyakinan. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi kuat melainkan itu terjadi karena Allah datang. Ketika Allah datang pengharapan yang mati dilahirkan kembali, suara yang lama terdiam dipulihkan untuk kembali bersaksi. Ketika Allah datang gelap tidak berkuasa, dan masa depan tidak lagi ditentukan oleh keputusasaan.

Pengharapan baru telah nyata dalam kehidupan zakharia, buktinya zakharia tidak lagi melihat hidup dari usia tua, keterbatasan dan pengalaman pahit, melainkan ia melihat dari Allah yang melawat umatNya, terang yang terbit dalam kegelapan serta keselamatan yang datang. Perlu kita tahu janji Allah tidak pernah batal, hanya sering tidak instan. Janji Allah pasti digenapi, tetapi waktunya tidak sesuai dengan waktu manusia. Zakharia menunggu lama, namun saat waktunya genap janji itu tidak datang setengah-setengah. Allah tidak pernah terlambat menepati janjinya, janjinya datang tepat pada waktunya. Ketika janjinya datang pengharapan yang telah lama mati dilahirkan kembali. Hari ini mungkin kita masih menunggu, masih bertanya, masih bergumul didalam diam. Tapi injil hari ini menegaskan yang dijanjikan Allah sedang digenapi meskipun belum terlihat. Amin