Dari KepenuhanNya Kita Menerima Kasih Karunia – Yohannes 1 : 10 – 17

Dari KepenuhanNya Kita Menerima Kasih Karunia

(Yohannes 1 : 10 – 17)

Manusia hidup di dunia yang penuh pertanyaan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa hidup tidak lagi berjalan lurus dan sederhana.  Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar, mengapa hidup harus susah? Mengapa orang baik harus menderita? Dimana Tuhan saat aku berdoa? Ini bukti bahwa manusia sadar akan hidupnya yang rapuh dan terbatas.  Tokoh Iman Ayub pernah bertanya, tokoh Iman daud pernah megeluh dan bahkan pemazmur juga berseru Berapa lama lagi ya Tuhan? Ini bukti jelas dalam Alkitab pun sudah penuh pertanyaan manusia kepada Allah. Pertanyaan lahir dari ketidakpastian hidup, dunia kita selalu ditandai oleh perubahan yang cepat, ketidakadilan, penderitaan serta ketidakpastian masa depan. Dalam situasi seperti itu pertanyaan muncul karena manusia mencari makna dan pegangannya. Pertanyaan bukan musuh iman, yang paling berbahaya adalah berhenti mencari Tuhan di balik pertanyaan itu.

Pertanyaan yang banyak bukan lagi permasalahan, melainkan yang menjadi persoalannya kemana kita membawanya. Ada dua kemungkinan, pertanyaan dibawa kepada Tuhan, iman bertumbuh. Pertanyaan dipendam sendiri iman semakin lemah. Lihat Yesus,  ketika di kayu salib ia  berseru  Allahku-Allahku  mengapa Engkau meninggalkan Aku? Apa maksud dari seruan tersebut? Maksudnya bertanya tidak sama dengan tidak percaya. Allah tidak tersinggung oleh pertanyaan yang jujur, justru ia hadir didalamnya.

Injil tidak menghapus semua pertanyaan, melainkan injil memberi Arah. Kristen bukan iman yang menjanjikan semua jawaban instan serta hidup tanpa tanda tanya. Kabar baiknya, kita memang hidup didunia yang penuh pertanyaan, tetapi kita tidak hidup didunia tanpa Allah. Pertanyaan boleh banyak, asal kita tidak berhenti mencari Dia yang sudah hadir ditengah dunia ini. Jangan terlalu cepat dan terburu-buru menyimpulkan Tuhan tidak hadir. Firman ini justru menyingkapkan kebenaran yang mengejutkan perihal Tuhan tidak pernah absen, yang teradi saat ini Tuhan hadir namun manusia tidak mengenalNya.

Alkitab berkata dengan jujur : mereka tidak menerimaNya dan mereka menolaknya. Penolakan ini terjadi bukan karena Ia salah namun karena Ia tidak cocok dengan keinginan manusia. Yesus tidak sesuai dengan harapan manusia, Ia datang dengan kerendahan bukan kekuasaan, Ia membawa salib bukan kenyamanan. Meskipun manusia menolak tapi Allah sendiri tidak pernah menghentikan kasihya. Ditengah penolakan, Allah tidak berhenti bekerja, ia membuka pintu selebar-lebarnya. Kabar baiknya Yesus tidak pernah kembali untuk memandang masa lalunya.

Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati, seluruh natur Allah ada didalam dia, seluruh kuasa kasih dan hidup Allah berdiam dalam Kristus. Fakta nyata dalam hidup, manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Seluruh hidup orang percaya dari awal sampai akhir bersumber dan bergantung pada kepenuhan kristus. Kebenaran dogmatisnya dalam  nats ini, Kristus cukup sepenuhnya tidak ada kekurangan dalam diriNya, maka dari itu kita tidak perlu mencari yang lain. Ia memulai keselematan melalui anugerah, Ia memelihara iman kita dengan anugerah serta menyempurnakan hidup kita melalui anugerah. Jika anugerah berhenti maka iman kita terancam untuk runtuh. Maka dari itu Iman kita harus tetap hidup, iman yang hidup karena kepenuhan Kristus, bukan karena konsistensimu. Dari kepenuhanNya kita menerima kasih karunia dalam perjalanan kehidupan. Amin.