Diberkati untuk menjadi Berkat – Kejadian 12 : 1 – 5

Diberkati untuk menjadi Berkat

Kejadian 12 : 1 – 5

Tuhan tidak pernah memberkati manusia tanpa tujuan. Ia memberkati kita bukan hanya supaya hidup terasa nyaman, tetapi supaya kehadiran kita membawa makna bagi sesama. Tuhan juga tahu kepada siapa ia memberi berkat, dan Ia juga tahu untuk apa berkat itu diberikan. Berkat bisa menjadi masalah apabila seseorang tidak memahami apa tujuan dari berkat tersebut. Masalahnya apa? kelimpahan bisa melahirkan kesombongan, jabatan bisa menjadi alat penindasan, dan pengetahuan bisa membuat orang merasa paling benar.

Lihat Abraham, ia mendapatkan berkat bukan karena ia sudah sudah sempurna atau  karena ia lebih unggul dari yang lain, melainkan ia mendapatkan berkat karena ia menanggapi panggilan Allah dengan ketaatan iman. Abraham di perintahkan untuk pergi, meninggalkan negeri, keluarga dan zona aman, lalu ia pun pergi. Disini ketaatan terlihat sangat jelas, dan ini bukan hasil pemahaman yang lengkap, tetapi ini merupakan kepercayaan penuh kepada pribadi yang memanggilnya. Ketika ia memulai berjalan di dalam ketaatan disinilah Allah mulai menyatakan berkatnya.

Di dalam kejadian 12 dengan sangat jelas diperlihatkan bahwa sejak awal Allah memberkati umatNya bukan tanpa tujuan. Disaat Allah memanggil Abraham ia tidak hanya menjanjikan berkat pribadi, seperti berkat keturunan, tanah dan nama yang besar. Allah juga menetapkan arah dari berkat tersebut, dengan tujuan berkat yang diterima Abraham tidak dimaksudkan berhenti pada dirinya dan keluarganya, melainkan berkat ini harus mengalir keluar untuk memulihkan bangsa-bangsa yang telah rusak oleh dosa dan kesombongan manusia semenjak peristiwa Babel. Dengan memanggil satu orang Allah sedang memulai kembali rencana keselamatan bagi banyak orang.

Abraham menjadi motivasi bagi kita dalam menjalani kehidupan, untuk menjadi saluran berkat. Abraham mengingatkan kita untuk menjadi saluran berkat bukan soal kemampuan besar atau posisi penting, melainkan soal kesediaan hati untuk taat dan percaya. Ketika kita berani menyerahkan hidup kepada Tuhan seperti Abraham, maka Allah sanggup memakai langkah iman kita yang kecil untuk menghadirkan berkatNya bagi dunia. Di zaman ini banyak orang yang enggan menjadi saluran berkat bagi dunia, bukan karena Tuhan tidak memberkati melainkan karena hati lebih sibuk menjaga kenyamanan diri sendiri. Berkat sering dipahami sebagai sesuatu yang harus disimpan, dinikmati dan diamankan bukan dibagikan. Ketika seseorang menerima berkat banyak orang lebih memilih sikap egois dan tidak peduli sehingga banyak orang menutup aliran berkat Tuhan dalam hidupnya. Padahal sangat jelas sejak awal Allah memanggil umatNya bukan hanya untuk menerima, tetapi untuk mengalirkan kasihNya kepada sesama. Firman ini benar-benar mengajak kita untuk bertanya dengan jujur, apakah hidup kita menjadi sungai yang menghidupkan ? atau justru waduk yan menahan aliran? Sebab ketika kita menolak menjadi saluran berkat, maka dunia kehilangan sentuhan kasih Allah yang seharusnya dapat dialami melalui hidup kita. Mari belajar dari ketaatan Abraham ia rela membuka aliran kasih Allah supaya dapat menjangkau generasi demi generasi, bahkan sampai kepada kita hari ini. Firman ini benar mengingatkan kita berkat Tuhan bukan sekedar untuk dinikmati pribadi, kiranya dengan firman ini kita tidak menyalahgunakan berkatNya. Biarlah melalui kehidupan kita dunia juga dapat merasakan bahwa Allah masih bekerja melalui hidup orang-orang yang taat dan penuh berkat. Amin.