Mengarahkan Hati dan Jiwa untuk Mencari Tuhan – 1 Tawarikh 22 : 14 – 19

Mengarahkan Hati dan Jiwa untuk Mencari Tuhan

1 Tawarikh 22 : 14 – 19

Arah hati adalah arah hidup. Hati merupakan pusat dari seluruh kehidupan manusia, tempat dimana lahirnya keinginan, pikiran, dan keputusan. Karena itu, apa yang ada didalam hati seseorang akan mempengaruhi bagaimana ia melihat hidup, bagaimana ia mengambil keputusan, dan bagaimana ia menjalani hari-harinya. Ketika seseorang menaruh hatinya pada sesuatu, secara perlahan seluruh hidupnya akan bergerak ke arah itu. Misalnya jika seseorang mengikat hatinya pada kekayaan, maka ia akan mengatur hidupnya untuk selalu mengejar uang. Dan kemungkinan ia juga memilih pekerjaan tertentu, dan bisa saja mengorbankan segala sesuatu hanya untuk mencapai keinginannya. Hal ini terjadi bukan karena ada yang memaksa, melainkan ini bisa terjadi karena hatinya sudah memiliki tujuan kesana.

Ini juga bisa terjadi dalam kehidupan rohani. Jika hati seseorang tidak tertuju kepada Tuhan, maka tanpa ia sadari perlahan-lahan hidupnya akan semakin menjauh dari Tuhan. Bisa saja ia melakukan rutinitas ibadahnya, namun jika hatinya dipenuhi dengan beragam kesibukan, ambisi pribadi dan keinginan duniawi maka lama kelamaan Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidupnya, Tuhan hanya menjadi bagian kecil dari hidupnya. Dalam nats ini Daud tidak ingin Tuhan hanya menjadi bagian terkecil dalam kehidupan umat. Daud menginginkan supaya Tuhan menjadi fokus utama dan pusat dari kehidupan umat, sehingga hidup umat semakin mengenal, semakin mengasihi dan semakin menaati Tuhan.

Pernyataan yang disampaikan Daud berangkat dari pengalaman hidupnya, ia menyatakan kekuatan, keberhasilan dan masa depan tidak ditentukan oleh dunia, melainkan ditentukan oleh hubungan mereka dengan Tuhan. Nasihat Kitab 1 Tawarikh 22 muncul ketika Daud sedang mempersiapkan pembangunan bait Allah dan memberi pesan kepada salomo serta para pemimpin Israel. Ia menyampaikan pesan bahwa bangunan Bait Allah saja tidak cukup tanpa hati yang mencari Tuhan. Daud disini sudah menyiapkan bahan yang sangat banyak untuk pembangunan rumah Tuhan. Tetapi ia menyadari apabila hati umat tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan maka Bait Allah hanya akan menjadi bangunan biasa.

Daud menyampaikan semua ini karena ia belajar dari perjalanan hidupnya sendiri. Ia belajar ketika ia dekat dengan Tuhan, hidupnya benar-benar dipimpin dan dipulihkan Tuhan. Tetapi ketikaa ia menjauh dari Tuhan, hidupnya banyak mengalami kekacauan. Dengan demikian ia memahami bahwa hal yang paling terpenting bagi umat bukanlah kekuatan dunia, melainkan hati yang terarah kepada Tuhan. Daud benar-benar menginginkan generasi selanjutnya tidak melupakan Tuhan. Dengan demikian Daud tidak hanya mempersiapkan perlengkapan pembangunan, melainkan ia juga mempersiapkan kehidupan rohani umat.Dilihat secara relevan, nasihat ini mengingatkan bahwa yang paling terpenting dalam kehidupan bukan hanya kegiatan gereja atau pelayanan, melainkan yang paling terpenting hati yang benar-benar dekat dengan Tuhan. Karena dengan demikianlah seluruh kehidupan akan diarahkan seturut dengan kehendakNya. Amin.