Allah Memberikan Damai Sejahtera – Hagai 2 : 1b – 10

Allah Memberikan Damai Sejahtera

(Hagai 2 : 1b – 10)

Satu gambaran sikap utuh umat, mereka bukan umat pemberontak. Mereka sudah bangkit dan mulai membangun kembali rumah Tuhan. Namun di tengah ketaatan itu, hati mereka perlahan mengering. Apa yang mereka kerjakan tidak seindah yang mereka ingat, tidak sebesar yang mereka harapkan, dan tidak secepat yang mereka bayangkan. Tanpa mereka sadari, perbandingan dengan masa lalu membuat ketaatan terasa sia-sia. Persoalan itu bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena mereka menilai kehadiran Tuhan tidak sesuai ekspektasi mata. Akibatnya muncullah satu sikap batin yang khas, mereka terus bekerja tetapi tanpa sukacita, mereka tetap melangkah tetapi tanpa pengharapan.

Disini Iman mereka tidak runtuh, tetapi hampir kehilangan napas. Kekecewaan tidak membuat mereka berhenti namun menggerogoti makna ketaatan itu sendiri. Dititik ini iman mereka tidak runtuh, tetapi iman mereka kehilangan tenaga.

Apa masalah yang terjadi? Masalah  utama mereka bukan bangunan, melainkan kegelisahan hati. Umat sudah taat, sudah bekerja dan sudah berada dijalan yang benar. Namun yang menjadi persoalan atau masalah adalah hati mereka. Kondisi hati yang gelisah, kondisi hati yang kecewa, dan kondisi hati yang kehilangan kepastian. Sehingga mereka bertanya, apakah Tuhan benar hadir disini? Apakah usaha kecil ini ada artinya? Disituasi ini sangatlah jelas tidak ada damai sejahtera di hati orang yang terus membanding-bandingkan kehidupan.

Disini ingatan berubah fungsi, ingatan dijadikan ukuran iman. Hal ini terlihat dari masa lalu umat yang dijadikan patokan kehadiran Allah. Orang mulai berpikir, kalau tidak seperti dulu, berarti Tuhan tidak hadir. Dalam nats ini yang menjadi patokannya bait salomo lalu dibandingkan dengan bait sekarang. Sehingga pengalaman yang lama lebih dipercaya dari pada janji Allah saat ini.

Disini Hagai menegaskan tentang Tuhan yang sama, artinya Tuhan tidak berubah karena keadaan umat berubah. Kecil besarnya sarana tidak mengurangi kesetiaanNya. Dia Tuhan yang sama yang kini menyertai umat yang kecil dan lemah.  Tuhan tidak mengulang cara yang lama, Ia lebih memilih cara yang baru, lebih sunyi dan sederhana.

Dari awal juga tujuanNya tidak pernah berubah, Ia ingin diam ditengah umatNya dan Ia ingin membentuk umat yang selalu mengandalkanNya. Disini hagai menunjukkan bangunan hanyalah sarana. Tujuan sejatinya adalah kehadiran Allah, pemulihan umat, membangun hubungan yang utuh serta Ia memberikan damai sejahtera kepada umatnya. Damai sejahterah inilah yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Damai sejahtera yang memelihara umat dalam proses yang belum selesai. Meskipun bagunan atau kehidupan belum sempurna dan proses masih panjang, damai sejahtera selalu memelihara, menjaga hati dan memberikan kekuatan. Kita sanggup menunggu itu semua karena damai sejahtera yang Ia berikan kepada umatnya. Pemberian ini sangat special, bukan sekadar membuat hidup terasa tenang, melainkan membuat hidup tetap utuh meski semua belum selesai dikerjakan.

Sering kali kita berpikir damai sejahtera akan datang setelah kehidupan kita rapi, setelah masalah selesai, setelah bangunan berdiri megah. Tetapi firman Tuhan hari ini berkata sebaliknya: Allah memberi damai sejahtera ketika bangunan masih kecil, proses masih lambat dan hati kita sedang lelah.  Masalah yang ada dihati, bukan karena  Tuhan tidak bekerja melainkan karena kita terus membandingkan hari ini dengan masa lalu dan menuntut masa depan datang lebih cepat. Jika hari ini hidupmu tidak seindah yang kau ingat, tidak sebesar yang kau harapkan, dan tidak secepat yang kau bayangkan, itu bukan tanda Tuhan meninggalkan mu. Ini tanda ia sedang bekerja dengan cara yang berbeda untuk memberimu damai sejahtera yang tidak bisa diambil oleh keadaan apapun, karena Kristus sendiri adalah damai sejahtera. Amin.