Di Dalam Dia Kita Menjadi Kaya dalam Segala Hal
(1 Korint 1 : 4 – 9)
Dunia sering sekali mengukur kekayaan dari apa yang kita miliki, seperti saldo rekening, merek kendaraan, luasnya property, jabatan, pengaruh dan gaya hidup yang menjadi indicator utama nilai diri. Semakin banyak yang dimiliki, semakin dianggap berhasil. Ironisnya ukuran dunia sering membuat manusia tidak pernah cukup, selalu membandingkan dan tidak pernah puas. Kekayaan menurut ukuran dunia ini sifatnya rapuh dan sementara. Kekayaan dunia tidak mampu menjamin damai dan keselamatan.
Dalam nats ini firman Tuhan berbicara dengan jujur, kekayaan sejati bukan persoalan apa yang kita miliki, melainkan soal di dalam siapa kita hidup. Disini Paulus juga menunjukkan ketegasannya yang begitu lembut, berangkat dari ucapan syukur, tidak menyinggung dosa-dosa jemaat secara langsung, dan tidak mempermalukannya. Paulus sangat tegas menempatkan manusia bukan di pusat dengan pernyataan Allah yang memberi anugerah, Allah yang memperkaya, Allah yang meneguhkan dan Allah yang setia. Pernyataan ini merupakan bukti bahwasanya bukan manusia yang hebat, bukan manusia juga yang menyelamatkan melainkan Allahlah yang menjadi pusat dari semuanya.
Paulus dengan tegas mematahkan kesombongan rohani jemaat, karena gejala kesombongan ini sangat kuat di korintus dan dampaknya pun sangat besar. Kesombongan rohani dapat menghancurkan persekutuan, melahirkan perpecahan dan dapat membuat seseorang kebal terhadap teguran. Sehingga Paulus disini melakukan sesuatu yang lebih dalam, ia harus menggeser pusat kebanggaan mereka. Dengan cara yang demikian maka tidak ada ruang bagi mereka untuk menyombongkan diri, sebab mereka mengetahui semuanya berasal dari Allah.
Nats ini benar-benar menyelamatkan bukan merendahkan, menyelamatkan berarti mengajak untuk membuka mata akan bahaya rohani, dan mengarahkan kembali kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan. Disini Paulus tidak menginginkan jemaat merasa tidak berharga, Paulus harapannya mereka berhenti mengantungkan diri pada hal yang salah. Selama jemaat mengantungkan diri pada hal yang salah, maka Kristus hanyalah pelengkap, anugerah tidak lagi diperlukan dan injil kehilangan daya ubahnya.
Oleh karena itu ingatlah Allah, Dialah yang setia menyertai dan meneguhkan kita. Kita disini tidak dipanggil untuk membuktikan diri, tetapi di panggil untuk tinggal, berjalan dan setia hidup dalam persekutuan dengan Kristus. Dan didalam persekutuan itulah, kekayaan anugerah Allah tidak hanya kita miliki tetapi kita hidupi hari demi hari. Amin.





