Kasih Allah Besar akan Dunia ini – Yohanes 3 : 1-17

Kasih Allah Besar akan Dunia ini

Yohanes 3 : 1-17

Pernahkah kita merasa sudah cukup rohani? Tetapi didalam hati masih memiliki ruang kosong yang sulit untuk dijelaskan? Kita banyak tahu ayat-ayat alkitab, kita selalu hadir dalam ibadah, tidak pernah absen, kita selalu melayani, namun ketika malam tiba dan kita sendirian ada pertanyaan yang diam-diam muncul, pertanyaannya apakah aku sungguh mengenal Tuhan? Atau aku hanya tahu tentang Tuhan? Pertanyaan ini menyentuh sebuah perbedaan yang sangat mendasar, antara pengetahuan intelektual dan relasi pribadi.

Berangkat dari pertanyaan inilah, yang membawa kita kepada satu perjumpaan yang sangat penting dalam injil Yohanes pasal 3. Seseorang bisa tahu banyak informasi tentang Tuhan, namun ia belum tentu memiliki hubungan yang hidup dengan Tuhan. Inilah yang kita lihat dalam injil Yohanes pasal 3 melalui tokoh nikodemus, ia adalah seorang farisi dan pemimpin agama Yahudi. Nikodemus secara formal atau intelektual sudah lengkap dalam hal pengetahuan rohani. Dari sisi pendidikan agama tidak ada kekurangan apapun, ia sudah sangat kompeten.

Didalam nats ini kita dibawa masuk kedalam percakapan yang sangat pribadi namun berdampak. Seorang pemimpin agama, nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam. Disini malam bukan hanya keterangan waktu melainkan gambaran kondisi batin manusia yang belum mengenal dan memahami Allah secara Pribadi. Malam melambangkan kegelapan, kebingungan, keraguan, ketakutan dan keterasingan rohani. Meskipun ia seorang terpelajar dan religius, ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

Lalu Yesus datang dan berkata kepadanya perihal kelahiran baru, dimana kelahiran baru bukan peningkatan etika misalnya berhenti melakukan kesalahan, lebih rajin ibadahnya. Lahir baru yang Yesus maksud adalah transformasi ontologis. Manusia tidak cukup untuk diperbaiki, kita perlu diperbaharui dari dalam melalui kuasa Rohkudus. Dengan tujuan membongkar reruntuhan lama dan menyalakan terang, sehingga perilaku dan pemahaman kita bukan sekadar bentuk kepatuhan melainkan manifestasi dari kehidupan yang dipenuhi kasih, kebenaran dan kuasa Allah.

Pengungkapan kasih Allah yang radikal juga telah terjadi. Kasih yang proaktif, tidak tergantung pada kelayakan manusia, kasih yang merupakan inisiatif Allah yang mencari manusia yang tersesat, jatuh dan terasing dariNya. Dengan demikian nats ini tidak sekadar mengajarkan doktrin kelahiran baru atau iman kepada Kristus, tetapi menegaskan bahwa kasih Allah adalah fondasi seluruh eksistensi manusia. Kasih mengubah hati yang keras menjadi lembut, kegelapan menjadi terang. Setiap orang yang percaya kepada anak tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa.

Dan yang terakhir, perlu untuk kita ketahui iman bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, melainkan membiarkan kasih Allah yang besar mengubah seluruh keberadaan kita, serta menuntun kita untuk hidup dalam terangnya setiap hari. Amin.