Tuhan dekat Tatkala Aku Memanggil
Ratapan 3 : 49 – 57
Dahulu kota Yerusalem adalah kota yang ramai, kota yang penuh dengan pusat aktivitas sosial dan Ekonomi. Yerusalem bukan kota kecil terisolasi, kota ini dikenal oleh bangsa-bangsa, karena di dalam kota Yerusalem ada arus perdagangan dan kunjungan dari luar. Benar-benar nyata Gambaran dari kemakmuran Yerusalem yang sungguh luar biasa, kota ini menjadi pusat ibadah yang aktif, kota dengan kemewahan, bertembok kuat dan penuh martabat diantara banyak bangsa. Namun melalui kitab ratapan mengungkap sebuah kebenaran yang penting tentang Yerusalem. Kebenaran mengenai kemakmuran luar tidak dapat menjamin kesehatan rohani. Secara ekonomi kuat, secara religius aktif, tetapi secara moral mulai rapuh dan ketika fondasi rohani retak, kemakmuran tidak mampu menyelamatkan.
Secara perlahan pergeseran banyak sekali terjadi didalam kota tersebut. Dimulai dari ibadahnya, mereka tetap beribadah namun hatinya semakin menjauh. Bukti konkret yang dapat dilihat, mereka mempersembahkan korban, tetapi ikut juga menyembah berhala. Mereka datang ke Bait Allah tetapi hidup dalam ketidakadilan. Nabi memberikan teguran, tetapi teguran tersebut diabaikan sehingga hati menjadi keras. Dan akhirnya dosapun dianggap sebagai hal biasa.
Dalam terang kitab ratapan, datanglah tahun kelam dimana kerajaan babel mengepung dan menghancurkan kota. Tembok runtuh, dan yang paling menyakitkan pembakaran bait suci salomo, ketika bait itu dibakar dan diratakan bangsa itu merasa seolah-olah Tuhan telah meninggalkan mereka. Suara sorak pesta dan nyanyian mazmur yang dahulu terdengar di hari raya kini telah digantikan oleh jeritan dan ratapan. Jalan-jalan yang dahulu penuh kehidupan berubah menjadi tangisan. Yerusalem yang dulu bersinar kini menjadi puing dan abu, tidak ada lagi sorak pesta dan tidak ada lagi kemegahan.
Ditengah reruntuhan itu berdirilah seorang yang menangis. Ia tidak hanya melihat batu yang hancur, tetapi mengenang masa lalu yang hilang. Dalam kitab ratapan ia berkata Air mataku bercucuran, tidak berhenti-henti, ini bukan tangisan sesaat, ini tangisan yang lahir dari kesadaran mendalam, kemuliaan yang dahulu dibanggakan kini lenyap karena dosa dan pemberontakan terhadap Tuhan. Yerusalem dahulu merasa aman dibalik tembok, sekarang ia sadar tembok tidak bisa menyelamatkan hati yang jauh dari Tuhan. Yerusalem dahulu kaya emas, sekarang ia belajar bahwa emas tidak dapat menggantikan hadirat Allah.
Ratapan 3:49-57 merupakan pergeseran dari ratapan yang pasif menuju iman yang aktif, dari tangisan yang hanya melihat kehancuran menuju doa yang menemukan kembali hadirat Tuhan. Di dalam bagian ini tidak lagi sekadar menggambarkan penderitaan bangsa, tetapi masuk ke pengalaman batin yang sangat pribadi dan teologis. Air mata bercucuran, tidak berhenti gambaran kesadaran akan realitas pahit. Ia melihat kehancuran, dan tidak menolak rasa sakit, melainkan mengijinkan luka itu untuk berbicara.
Didalam nats ini perubahan besar terjadi, dia tidak hanya menangisi keadaan, melainkan ia mulai berseru kepada Tuhan. Tidak fokus kepada reruntuhan, melainkan ia mengarahkan pandangan kepada Allah, sebab Allah mendengar dan mendekat. Ketika Tuhan mendekat itu cukup bagi orang-orang untuk menyalakan harapan di tengah penderitaan. Ratapan tegas memberikan ajaran bahwa kehancuran bisa menjadi tempat lahirnya relasi yang dalam dengan Tuhan. Dari air mata menuju doa, dari doa menuju perjumpaan, dari perjumpaan menuju keberanian untuk tidak takut. Amin.





