Yesus Dimuliakan di atas Gunung – Lukas 9 : 28 – 36

Yesus Dimuliakan di Atas Gunung

Lukas 9 : 28 – 36

Sebelum Yesus dimuliakan diatas gunung, ia terlebih dahulu berbicara tentang penderitaanNya. Ia mengatakan bahwa Ia akan ditolak, Ia menderita, bahkan dibunuh. Suasana sebelum naik kegunung bukan suasana perayaan tetapi suasana yang cukup serius, dimana suasana tersebut melambangkan suasana menuju salib. Bayangkan kondisi saat itu, baru saja Yesus diakui Mesias. Namun ketika mereka mendengar penderitaan, hati mereka berubah menjadi bingung dan gelisah. Mesias yang menderita bukan gambaran yang diharapkan.

Mengapa peristiwa ini terjadi tepat sebelum penderitaan? Jawabannya karena Allah mengetahui bahwa kondisi iman manusia mudah goyah ketika melihat salib. Ketika Yesus ditangkap, dihina dan disalibkan semuanya tampak seperti kekalahan. Meskipun demikian gunung tersebut menjadi pengingat di balik penderitaan, ada kemuliaan. Salib bukan symbol kegagalan melainkan salib merupakan jalan menuju kemenangan. Yesus memilih untuk naik ke gunung menjadi opsi yang tepat, Ia berdoa, tidak melarikan diri, tidak menghindari misiNya melainkan Ia mencari wajah BapaNya. Justru ketika Ia berdoa kemuliaanNya dinyatakan.

Yesus naik bersama-sama dengan ketiga muridNya bukan untuk menghindari salib, tetapi untuk meneguhkan langka menuju salib. Salib bukan kejutan bagi Yesus, Salib adalah misinya. Ia naik kegunung apa factor pendukungnya? Jelas Ia memakai gunung tempat peneguhan bukan pelarian. Ia menggunakan gunung sebagai tempat untuk berdoa. Dalam doa, Ia menyelaraskan kehendak manusiaNya dengan rencana keselamatan Allah. Dan ditengah-tengah doa tersebut kemuliaan Allah dinyatakan.

Satu kebenaran yang perlu diketahui, kemuliaan Allah sering dinyatakan bukan untuk menghapus penderitaan melainkan tujuannya untuk menguatkan kita untuk menghadapi penderitaan tersebut. Saat ini kita memiliki tanggung jawab yang berat, tanggung jawab di keluarga ataupun pekerjaan yang membawa tekanan. Terkadang dengan situasi tersebut kita juga serasa ingin naik gunung, dengan tujuan menjauh, berhenti atau bahkan menyerah. Tapi sangat menarik Yesus memberikan teladan pengajaran kepada kita. Teladan yang dapat kita petik, ia mendekat kepada Bapa supaya langkahNya semakin teguh. Ia berdoa supaya hatinya semakin mantap. Dan yang paling luarbiasanya Ia tidak menghindar dari panggilanNya.

Nats ini benar-benar menantang kita; tantanggannya apakah kita menggunakan gunung sebagai tempat pelarian atau sebaliknya sebagai tempat peneguhan? Ingatlah gunung bukan akhir perjalanan. Gunung merupakan tempat Tuhan menguatkan kita untuk tetap setia kepada panggilannya. Mari lihat peristiwa Yesus turun dari gunung itu. Ia tidak tinggal diam disana, Ia berjalan terus menuju Yerusalem menuju salib. Ini merupakan keputusan sadar yang dilakukanNya, Ia lebih memilih ketaatan kepada kehendak Bapa dari pada kenyamanan pengalaman rohani.

Jika Yesus rela berjalan menuju salib demi kita, apakah kita rela berjalan dalam ketaatan kepadanya? Pertanyaan ini mengajak melihat kembali kasih Kristus. Disini Yesus tidak dipaksa menuju salib, Ia tahu apa yang menantiNya, penderitaan, penghinaan, penolakan serta kematian. Namun meskipun demikian keputusan sadarnya tetap melangkah. Dengan sangat Jelas ia tidak memilih jalan yang mudah melainkan memilih jalan yang benar. Sangat jelas, disini Yesus tidak hanya menunjukkan kemuliaan digunung, tetapi juga keteguhan dijalan menuju salib. Amin.