Aku Menyanyi Bagi Tuhan (Keluaran 15 : 1 – 14)

Aku Menyanyi Bagi Tuhan (Keluaran 15 : 1 – 14)

Dalam Keluaran 15:1-14, nyanyian bangsa Israel bukanlah nyanyian yang direncanakan sebelumnya. Nyanyian ini lahir dari momen yang sangat dalam, momen ketika mereka baru saja diselamatkan dari kematian. Nyanyian ini murni bukan hasil persiapan manusia, bukan latihan paduan suara, melainkan nyanyian ini muncul secara spontan dari hati yang tersentuh oleh Tuhan. Sebelumnya bangsa Israel berada dalam ketakutan yang besar. Laut menghalangi, musuh mengejar. Tidak ada jalan keluar, namun Tuhan bertindak dengan kuasaNya, membuka jalan di tengah laut dan menutupnya kembali atas musuh mereka. Jadi sangatlah jelas apa yang mereka lihat bukanlah sekadar cerita, melainkan peristiwa yang mereka alami sendiri. Karena itu nyanyian mereka adalah respons spontan. Hatinya yang tadinya penuh ketakutan kini meluap dengan syukur. Mereka juga bernyanyi karena mereka tahu, kalau bukan Tuhan yang berpihak kemungkinan mereka tidak akan selamat.

Bangsa Israel bernyanyi karena mereka melihat siapa Tuhan dengan cara yang baru. Dalam nyanyian itu, mereka tidak hanya memberitahukan apa yang telah terjadi. Tetapi dalam nyanyian tersebut mereka memuliakan pribadi Tuhan dengan sangat jelas, Tuhan kuat, Tuhan berkuasa dan tidak ada yang dapat menandinginya. Pengalaman yang dilalui membuka penglihatan mereka tentang Tuhan yang hidup dan bertindak jelas dalam kehidupan mereka. Menariknya, dengan nyanyian tersebut mereka semakin dalam mengenal Tuhan. Dengan nyanyian mereka yakin dan imani bahwa Tuhan yang menolong dan yang akan terus memimpin. Dan luar biasanya lagi nyanyian bangsa Israel ini menjadi pernyataan iman yang cukup kuat, dengan bukti mereka mengimani masa depan bangsa tetap ditangan Tuhan. Dari sini kita bisa kembali merenung, bagaimana dengan nyanyian kita saat ini? Apakah nyanyian kita hanya sebuah kebiasaan? Atau tindakan yang lahir dari kesadaran hati akan karya Tuhan yang besar? Dalam kehidupan masa kini ada kecenderungan bahwa nyanyian dianggap sebagai rutinitas. Kita tahu lagunya, kita hafal baik nadanya, namun kita gagal memahami maknanya. Bahkan kadang saat ini nyanyian lebih terasa sifatnya seperti sebuah penampilan dari pada penyembahan. Nyanyian kita saat ini fokusnya hanya kepada suara, musik, serta suasana, bukan fokus kepada Tuhan. Dalam nats ini kita perlu kembali belajar dari keluaran 15, bahwa nyanyian sejati bukan soal seberapa indah dinyanyikan, melainkan seberapa dalam kita menyadari siapa Tuhan dan apa yang telah Ia lakukan dalam hidup kita.

Perlu untuk diingat, Tuhan tidak mencari suara yang sempurna, melainkan mencari hati yang hidup. Nyanyian kita diajak supaya berubah, bukan sekadar kewajiban, melainkan menjadi kesaksian. Bukan lagi sekadar formalitas melainkan hubungan. Meskipun kita menghadapi pergumulan kita masih tetap bisa benyanyi. Biarlah setiap nyanyian yang kita nyanyikan menjadi ungkapan hati yang jujur, bahwa kita mengenal Tuhan, serta mengalamiNya dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepadaNya.Amin

Cek artikel lainnya: disini

Scroll to Top