Hatiku Bersukacita dan Jiwaku Bersorak-sorai (Kisah Para Rasul 2 : 22 – 28)

Hatiku Bersukacita dan Jiwaku Bersorak-sorai (Kisah Para Rasul 2 : 22 – 28)

Sukacita runtuh menggambarkan kondisi ketika kebahagiaan seseorang tidak lagi bertahan karena sandarannya terlalu rapuh. Dalam bahasa modern ini bisa disebut sebagai kondisi emotional crash atau jatuhnya mood secara drastis ketika situasi hidup tidak sesuai dengan harapan. Seseorang bisa bersukacita, bisa bersorak-sorak karena pekerjaannya lancar, keuangan aman atau hubungan berjalan baik. Namun apabila keuangan terganggu, hasil pemeriksaan kesehatan kurang baik, perasaan itupun langsung segera berubah, menjadi kosong dan bahkan kecewa berat. Sehingga sukacita dan sorak-sorak seperti ini tidak stabil dalam kehidupan. Kondisi sukacita manusia saat ini menunjukkan, bahwa kita sedang menaruh tumpuan utama pada hal-hal yang tidak permanen. Ini ibarat seperti membangun rumah diatas pasir, selama cuaca baik, semuanya terlihat aman, tetapi ketika badai datang semuanya mudah goyah. Karena itu konsep firman di minggu ini mengingatkan kita bahwa sukacita yang hanya bergantung pada keadaan akan selalu beresiko runtuh. Nats di minggu ini mengajarkan sukacita yang sangat berbeda, yang di inginkan nats ini sukacita yang lahir dari kepastian iman.

Perlu untuk kita ketahui, pertama sukacita kita sederhana tetapi dalam maknanya. Sukacita orang percaya muncul bukan karena hidup sedang rapi dan sempurna. Melainkan karena kita sadar bahwa Tuhan tetap hadir di tengah hidup yang belum rapi. Jadi bukan kondisi hidup yang menentukan hati kita, tetapi kesadaran bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat keadaan terasa berantakan.

Kedua, sukacita yang muncul dari ketenangan batin. Dalam kehidupan nyata kita sering tidak selalu punya kontrol atas apa yang terjadi. Ada masa dimana kita kuat, tenang, namun ada pula masa dimana kita lelah, bingung dan bahkan merasa hampir jatuh. Jadi seseorang bisa bersukacita bukan karena kuat tetapi karena di topang.

Ketiga sukacita bersumber dari kepercayaan. Hal ini sangat relevan dengan kehidupan modern yang sering membuat orang merasa sendirian ditengah kesibukan, tekanan dan tuntutan. Hal ini terlihat khusus diayat 25-26 ketika daud berkata bahwa ia senantiasa memandang Tuhan dihadapan ku dan karena itu hatinya bersukacita. Artinya sukacita lahir bukan karena Daud sedang disituasi yang baik, tetapi karena ia memilih percaya bahwa Tuhan ada didepan dan disisinya. Jadi yang menggerakkan sukacita itu adalah iman yang aktif bukan perasaan yang pasif.

Jadi sangatlah jelas sukacita dan sorak-sorak bukan sekadar reaksi emosional, melainkan buah dari kepercayaan yang terus diarahkan kepada Tuhan. Ketika iman itu hidup, ketika seseorang sungguh percaya bahwa Tuhan hadir dan menopang, disitulah hati mulai mengalami sukacita yang tidak mudah runtuh oleh keadaan. Amin.

Cek artikel lainnya: disini

Scroll to Top