Taati Hukum dan Tegakkan Keadilan (Yesaya 56 : 1 – 8)
Melalui Yesaya 56:1–8, Tuhan mendidik umat-Nya untuk memahami bahwa ketaatan kepada Allah tidak pernah dapat dipisahkan dari keadilan terhadap sesama. Ketaatan yang sejati bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan orang lain. Tuhan menolak kesalehan yang hanya berhenti pada ritual, tetapi tidak menghasilkan perubahan dalam cara seseorang hidup. Pada masa itu, bangsa Israel sangat bangga karena mereka menyandang status sebagai umat pilihan Allah. Mereka tetap menjalankan berbagai praktik keagamaan, menjaga tradisi, serta mempertahankan identitas mereka sebagai bangsa yang dipilih. Namun, di balik semua itu, Tuhan melihat sesuatu yang jauh lebih mendasar. Masih ada ketidakadilan, diskriminasi, kesombongan, dan sikap yang merendahkan sesama. Mereka mempertahankan simbol-simbol keagamaan, tetapi melupakan nilai-nilai yang menjadi inti dari hukum Tuhan. Mereka rajin beribadah, tetapi gagal menghadirkan keadilan. Mereka menjaga tradisi, tetapi kehilangan kasih. Mereka bangga sebagai umat pilihan, tetapi melupakan tanggung jawab sebagai umat yang seharusnya menjadi berkat bagi orang lain.
Karena itulah, Tuhan tidak berkata, “Perbanyaklah ibadahmu.” Tuhan juga tidak berkata, “Perbanyaklah persembahanmu.” Sebaliknya, Tuhan menyampaikan sebuah perintah yang sederhana, tetapi sangat mendasar: “Peliharalah hukum dan tegakkanlah keadilan.”Firman ini menjadi teguran yang sangat relevan bagi kehidupan orang percaya pada masa kini. Jangan sampai kita merasa sudah dekat dengan Tuhan hanya karena aktif mengikuti berbagai kegiatan gereja. Jangan sampai kita menganggap diri kita sudah hidup benar hanya karena rajin berdoa, melayani, bernyanyi dalam paduan suara, atau menghadiri setiap persekutuan. Sebab, Tuhan tidak hanya melihat aktivitas keagamaan kita. Tuhan juga melihat bagaimana kita memperlakukan pasangan, anak-anak, orang tua, tetangga, rekan kerja, dan bahkan orang-orang yang berbeda dengan kita. Sering kali, kerohanian diukur berdasarkan aktivitas. Semakin aktif seseorang di gereja, semakin rohani ia dianggap. Padahal, ukuran iman yang sejati bukanlah seberapa sering seseorang datang ke gereja, melainkan seberapa besar firman Tuhan mengubah kehidupannya.
Seseorang dapat menyanyikan lagu pujian dengan suara yang sangat merdu, tetapi masih menyimpan kebencian. Seseorang dapat memimpin doa dengan kata-kata yang sangat indah, tetapi masih berlaku tidak jujur. Seseorang dapat menjadi pelayan yang sangat aktif, tetapi masih suka merendahkan orang lain. Inilah ironi yang sering terjadi. Kita begitu sibuk melayani di dalam gereja, tetapi gagal melayani orang-orang yang hidup bersama kita setiap hari. Padahal, iman yang sejati tidak hanya mengubah cara seseorang beribadah, tetapi juga mengubah cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Tuhan tidak sedang mencari orang yang hanya pandai berbicara tentang kasih. Tuhan sedang mencari orang yang mampu menghadirkan kasih melalui kehidupannya. Pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa kali kita hadir dalam ibadah. Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak jabatan yang pernah kita pegang dalam pelayanan. Tuhan juga tidak akan menilai kita berdasarkan seberapa aktif kita di dalam gereja.
Sebaliknya, Tuhan akan melihat apakah kehadiran kita membawa damai atau justru menghadirkan luka. Tuhan akan melihat apakah tangan kita dipakai untuk menolong atau justru untuk menjatuhkan. Tuhan akan melihat apakah kehidupan kita menjadi saluran kasih atau justru menjadi sumber ketidakadilan. Yesaya 56:1–8 mengingatkan kita bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak boleh berhenti di dalam gereja. Ketaatan harus hadir di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di tengah masyarakat, dan di mana pun kita berada. Ketika orang lain melihat kehidupan kita, mereka seharusnya tidak hanya melihat bahwa kita adalah orang yang rajin beribadah. Mereka juga harus dapat merasakan bahwa kita adalah orang yang hidup dalam kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan kasih. Amin.





