Bergembira di dalam Tuhan (Habakuk 3 : 10 – 19)
Dimanakah kita meletakkan sumber hati kita? pertanyaan ini sekaligus menjadi perenungan bagi hidup kita, untuk melihat lebih dalam kehidupan. Apakah hidup kita selama ini bersukacita karena Tuhan atau hanya karena keadaan kita sedang baik-baik saja? Tanpa kita sadari, saat ini banyak orang menggantungkan sukacita pada situasi, ada uang ia bergembira, pekerjaan lancar ia juga bergembira. Namun ketika keadaan berubah, masalah datang, harapan tidak tercapai, relasi retak maka rasa gembira turut lenyap. Dalam nats ini habakuk juga menggambarkan reaksinya secara jujur dan manusiawi, tubuh gemetar, bibir bergetar, tulang seperti melemah. Ini bukan bahasa rohani yang rapi, melainkan ini bahasa seseorang yang menyadari realitas yang sangat berat telah terjadi. Meskipun hal ini terjadi habakuk tidak lari dan tidak pernah tenggelam dalam keputusasaan. Justru dititik inilah, kita bisa melihat tidakan iman yang sangat dalam sedang dikerjakan oleh habakuk.
Habakuk mengerjakan tiga hal penting, ia lebih memilih untuk diam dan menanti. Artinya habakuk bukan pasrah tanpa arah, ia tidak menyerah karena kalah, tetapi habakuk menyerahkan diri karena percaya. Ini bukan keputusasaan, melainkan penyerahan yang penuh Iman. Sebelumya habakuk banyak bertanya, mengapa kejahatan dibiarkan? Mengapa bangsa yang lebih jahat dipakai menghukum Israel? Inilah bentuk pertama pergumulan yang dijujurkannya kepada Tuhan. Namun di pasal 3 hatinya totalitas berubah, ia tidak lagi Fokus menuntut jawaban, tetapi mulai percaya dengan karakter Tuhan.
Saat ini banyak manusia berusaha mengontrol keadaan, artinya kita cenderung ingin memastikan masa depan kita aman, menghindari penderitaan dan mengatur hasil sesuai dengan keinginan kita. Tetapi habakuk sadar, bahwasanya ada hal-hal yang memang diluar kendali manusia. Sehingga dititik itu juga ia berhenti memaksakan kontrol. Hal ini ia lakukan bukan berarti ia tidak peduli, tetapi ia menyadari keterbatasannya. Dalam kehidupannya telah terjadi pergesaran penting, dari yang ia harus mengendalikan hidupnya sendiri, menjadi Tuhan yang memegang kendali hidupnya.
Relevansinya dengan masa kini, bergembira di dalam Tuhan menjadi sangat penting. Supaya ini terjadi dalam hidup, kita harus menjaga dengan baik harapan kita saat menghadapi kesulitan. Bergembira didalam Tuhan tidak bisa dibuat-buat secara asal, melainkan hal ini harus dibangun. Melalui apa habakuk membangunnya? Tentu dengan hubungan yang dekat dengan Tuhan, firman yang selalu direnungkan dan iman yang terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Firman Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa semua itu akan langsung hilang, melainkan Firman Tuhan mengundang kita untuk mengambil langkah yang sama seperti Habakuk. Tetap Percaya, tetap bersandar dan tetap bergembira didalam Tuhan. Amin.





