Banyak orang zaman sekarang percaya bahwa hidup ditentukan oleh hoki, relasi, jabatan atau kerja keras.Usaha memang sangat penting, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa usaha tanpa penyertaan Tuhan tidak memberi damai yang sejati. Cara berpikir seperti ini membuat hidup mudah dikuasai ketakutan dan ketidakpastian, karena hoki, relasi jabatan, kerja keras dianggap lebih besar dari pada penyertaan Tuhan. Tanpa kita sadari, hati manusia mulai memindahkan sandarannya dari Tuhan kepada hal-hal duniawi. Itulah sebabnya banyak orang terlihat berhasil diluar, tetapi gelisah didalam. Semakin tinggi pencapaian, semakin besar ketakutan kehilangan. Semakin bergantung pada manusia, semakin mudah kecewa ketika manusia berubah.
Melalui kitab Bilangan 6:22-27 Tuhan mengingatkan bahwa berkat sejati berasal dari Dia sendiri. Kenapa Tuhan harus mengingatkan? Karena hati manusia sangat mudah melupakan sumber hidupnya. Ketika manusia berhasil, manusia cenderung merasa semua itu hasil kekuatan sendiri. Tuhan menegaskan melalui nats ini, bahwa hanya Dialah sumber berkat, penegasan ini supaya manusia tidak menjadikan dunia sebagai allah penggantinya.
Tujuan Tuhan dalam nats ini bukan sekadar manusia menerima berkat, tetapi supaya mengenal siapa pemberi berkat itu. Kenapa harus kenal? Sebab tanpa mengenalNya manusia mudah terjebak dan manusia melupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Saat ini manusia lebih tertarik kepada apa yang Tuhan bisa berikan dari pada Tuhan itu sendiri. Buktinya banyak orang datang berbondong-bondong kepada Tuhan hanya untuk mencari berkat kesembuhan, berkat keberhasilan dan berkat ekonomi. Setelah semua itu tercapai hubungan manusia dengan Tuhan mulai kembali dingin. Doa berkurang, ibadah biasa saja, dan hati sudah tidak sungguh mencari Tuhan.
Hal ini mirip seperti seseorang yang mendekati orang lain hanya karena ada keuntungan. Selama masih diberi bantuan ia dekat. Tetapi ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, hubungan itu menjauh. Dalam kehidupan rohani, manusia juga bisa jatuh pada sikap seperti itu kepada Tuhan. Tuhan sering dipandang seperti tempat meminta bukan bapa yang ingin dikenal dan dikasihi.
Dalam kitab bilangan 6:22-27 menyuarakan kepada kita, inti berkat yang sesungguhnya adalah kehadiran Tuhan itu sendiri. Jadi berkat yang terbesar bukan pertama-tama harta atau keberhasilan, tetapi Tuhan yang hadir dalam hidup manusia. Karena itu perenungan dari nats ini mengajak kita untuk memeriksa hati. Apakah kita mengasihi Tuhan,atau hanya mengasihi apa yang Tuhan beri? Jika suatu hari Tuhan tidak memberikan semua yang kita inginkan, apakah kita masih tetap mencariNya? Jika berkat jasmani berkurang, apakah kasih kita kepada Tuhan juga ikut berkurang? Ingatlah dengan baik manusia tidak diciptakan untuk hidup hanya mengejar berkat, tetapi untuk hidup bersama Tuhan sang pemberi berkat. Dunia ini akan terus menawarkan banyak sandaran, namun penting untuk diketahui pada akhirnya manusia bisa kehilangan banyak hal didunia ini. Jadi, mulai dari sekarang ingatlah berkat terbesar bukanlah apa yang ada ditangan kita, melainkan siapa yang memegang kendali hidup kita. Amin.





