Dibenarkan oleh karena Iman (Galatia 2 : 15 – 21)
Salah satu pergumulan manusia yang tidak pernah berubah adalah keinginan untuk merasa layak di hadapan Allah. Banyak orang berpikir jika mereka cukup baik, cukup rajin beribadah, cukup banyak memberi persembahan, cukup aktif melayani maka Allah akan lebih menerima mereka. Pemikiran seperti ini muncul karena manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengandalkan diri sendiri dari pada mengandalkan anugerah Allah. Sejak awal, manusia lebih mudah memahami hubungan yang berdasarkan prestasi dari pada hubungan yang berdasarkan kasih karunia. Dalam kehidupan sehari-hari kita terbiasa mendapatkan penghargaan karena kerja keras, menerima nilai karena belajar, mendapatkan promosi karena prestasi dan memperoleh kepercayaan karena kemampuan. Pola pikir ini kemudian tanpa sadar dibawa kedalam hubungan dengan Allah. Akibatnya banyak orang berpikir bahwa semakin banyak mereka melakukan hal-hal rohani, semakin besar pula penerimaan Allah terhadap mereka.
Tuhan sering dipandang sebagai pihak dalam sebuah kontrak, sehingga banyak orang mengembangkan mentalitas transaksi dalam hubungan mereka denganNya. Banyak orang tanpa sadar memperlakukan hubungan dengan Tuhan seperti hubungan bisnis. Ketaatan, ibadah, persembahan, dan pelayanan dijadikan semacam “investasi rohani” yang diharapkan menghasilkan keuntungan berupa berkat, kesuksesan, kesehatan, atau jawaban doa. Akibatnya, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai Bapa yang mengasihi, melainkan sebagai pihak yang dianggap wajib membayar apa yang manusia rasa telah ia kerjakan.
Perlu kita ketahui, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, hanya Kristus yang dapat menyelamatkan manusia. Bagi orang yahudi semakin taat menjalankan aturan agama, semakin benar mereka dihadapan Allah. Paulus menghancurkan cara berpikir tersebut dengan mengatakan bahwa orang yang paling religious sekalipun tidak dapat dibenarkan oleh perbuatannya. Semua orang membutuhkan Kristus.
Pengajaran nats ini benar-benar meruntuhkan spritualitas berbasis performa. Pengajaran ini membawa kabar yang membebaskan. Paulus berkata bahwa manusia dibenarkan oleh iman kepada Kristus, bukan oleh perbuatan hukum taurat. Artinya dasar penerimaan Allah bukanlah performa kita, melainkan karya Kristus di salib.
Oleh karena itu, dibenarkan oleh iman bukan hanya sebuah doktrin tentang keselamatan, tetapi juga sebuah cara hidup. Setiap hari orang percaya belajar berkata bukan kebaikanku yang menjadi sandaranku, melainkan Kristus. Bukan prestasiku yang memberi aku harapan, melainkan salib Kristus. Bukan kekuatanku yang membuatku berdiri, melainkan kasih karuniaNya. Amin.





