Pemeliharaan Allah yang Universal (Kejadian 21 : 8 – 21)

Pemeliharaan Allah yang Universal (Kejadian 21 : 8 – 21)

Kita sering kali mengecilkan cara kerja Tuhan karena kita mengukur Dia dengan batasan cara berpikir kita sendiri. Kita mencoba memahami Tuhan hanya berdasarkan logika, pengalaman, dan apa yang pernah kita lihat, seolah-olah apa yang tidak masuk dalam pemahaman kita berarti tidak mungkin terjadi. Padahal Tuhan bekerja melampaui batas pikiran manusia; jalan-Nya tidak terkurung oleh kemampuan kita untuk mengerti.

Ketakutan manusia terhadap masa depan sering kali bukan semata-mata karena masa depan itu benar-benar gelap, tetapi karena kita ingin memegang kendali atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Tanpa sadar, kita ingin menjadi “tuhan kecil” bagi hidup kita sendiri: menentukan jalan, memastikan hasil, mengatur segala sesuatu sesuai keinginan kita. Ketika kendali itu terasa hilang, muncullah kecemasan.

Nats firman Tuhan hari ini merobek ilusi,maksudnya adalah menghancurkan cara pandang yang salah tapi sudah kita anggap benar, supaya kita bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Pikiran manusia sering seperti ini, kalau aku ditolak orang, berarti masa depanku selesai, kalau tidak ada yang menjamin aku, aku akan hancur. Cerita hagar dan Ismael merobek semua itu, kenapa? Karena di padang gurun, tempat tanpa harapan menurut manusia justru Allah tetap hadir, mendengar dan memelihara. Jadi apa yang tadinya kita anggap akhir dari segalanya, ternyata bukan akhir bagi Allah.

Ilusi itu memang membuat kita takut. Ilusi adalah cerita palsu yang kita anggap nyata. Karena kita mempercayainya, kita jadi hidup seolah-olah itu benar, padahal sebenarnya tidak. Begitu ilusi ini kita percayai, lahirlah ketakutan. Kenapa? Karena semua jaminan kita ternyata rapuh. Kita hidup dengan asumsi bahwa hidup bergantung pada hal-hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kita kuasai.

Ada saat dalam hidup ketika kita merasa seperti hagar dan Ismael dipadang gurun, di tinggalkan, tidak diperhitungkan dan seolah-olah masa depan sudah habis. Di titik ini kita mudah percaya pada satu ilusi yang sangat kuat, bahwa hidup kita di tentukan oleh siapa yang masih menerima kita. Selama ada orang yang membuka pintu, kita merasa punya masa depan. Tapi ketika pintu itu tertutup, kita mulai berpikir semuanya sudah selesai.

Padahal kisah Hagar dan Ismael menunjukkan kenyataan yang berbeda. Ketika manusia menutup pintu, Allah tidak berhenti melihat. Ketika manusia tidak lagi memperhitungkan mereka, Allah tetap memandang mereka sebagai pribadi yang berharga. Di tempat yang menurut manusia adalah akhir, Allah justru menyatakan bahwa Dia masih bekerja. Karena masa depan kita tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh tangan manusia yang bisa berubah, tetapi oleh Allah yang tetap hadir, melihat, dan memelihara. Yang tertutup di hadapan manusia belum tentu tertutup di hadapan Tuhan. Amin.

Scroll to Top