Allah menyukai kasih setia (Hosea 6 : 1 – 6)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, persoalan umat Israel bukan semata-mata karena mereka melakukan kesalahan, melainkan karena mereka tetap menjalankan kehidupan keagamaan tanpa sungguh-sungguh membiarkan Tuhan mengubah hati dan perilaku mereka. Mereka masih mengenal ibadah dan mempersembahkan korban, tetapi kasih setia mereka kepada Tuhan begitu rapuh. Bukankah bahaya yang sama dapat mengintai kehidupan kita? Kita datang ke gereja, menyanyikan pujian, mendengarkan khotbah, dan memberikan persembahan, tetapi setelah pulang, hati kita tetap keras, perkataan kita masih melukai, dan kepedulian kita terhadap sesama tetap dingin. Kita merasa sudah melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi belum tentu bersedia melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Kita bisa menghitung berapa kali kita beribadah, tetapi pernahkah kita menghitung berapa kali perkataan dan tindakan kita melukai orang lain? Kita mengingat apa yang telah kita persembahkan kepada Tuhan, tetapi apakah kita juga mengingat orang-orang yang membutuhkan perhatian kita dan selama ini kita abaikan? Saudara-saudara, jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi lalai menghidupi firman; jangan sampai kita terlihat dekat dengan Tuhan di gereja, tetapi justru membuat orang-orang terdekat sulit merasakan kasih Tuhan melalui kehidupan kita. Inilah teguran Hosea yang perlu kita dengar: Tuhan tidak sedang mencari ibadah yang sekadar terlihat baik di mata manusia. Tuhan menghendaki hati yang setia, kehidupan yang taat, dan kasih yang nyata dalam tindakan. Sebab, ibadah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di hadapan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup di hadapan sesama setelah meninggalkan rumah Tuhan.
Dalam Hosea 6:4, Tuhan menggambarkan kasih Efraim seperti kabut pagi dan embun yang cepat menghilang. Gambaran ini menyingkapkan kasih yang tampak indah, tetapi tidak bertahan; kesetiaan yang terdengar meyakinkan, tetapi tidak berakar kuat. Kita pun bisa jatuh dalam keadaan yang sama. Ketika dihargai, kita bersemangat; ketika diabaikan, kita menjauh. Ketika pendapat kita diterima, kita bersukacita; ketika pendapat kita ditolak, kita menyimpan kepahitan. Ketika pelayanan berjalan sesuai keinginan, kita setia; ketika tidak mendapat tempat atau penghargaan, kita mulai kehilangan komitmen. Tanpa sadar, kita menjadikan perlakuan orang lain sebagai penentu kasih dan kesetiaan kita. Padahal, kasih yang dewasa tidak bergantung pada apakah kita selalu dihargai, dan kesetiaan yang sejati tidak ditentukan oleh apakah keadaan selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ini bukan berarti kita harus membiarkan diri diperlakukan semena-mena atau membenarkan ketidakadilan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk tetap melakukan yang benar, menyatakan kebenaran dengan kasih, dan menjaga integritas sekalipun sedang kecewa. Saudara-saudara, mudah untuk setia ketika semuanya menyenangkan, tetapi karakter kita terlihat ketika kita menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Mudah berkata mengasihi, tetapi kasih itu diuji ketika kita harus bersabar, mengalah demi kebaikan bersama, mengampuni, atau melakukan sesuatu tanpa menerima pujian. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya masih mengasihi Tuhan?” Bertanyalah juga, “Apakah kasih saya kepada Tuhan tetap terlihat ketika saya kecewa, terluka, tidak dihargai, dan harus berkorban?” Sebab, kasih setia bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi, melainkan komitmen untuk terus hidup dalam kehendak Tuhan.
Puncak teguran ini terdapat dalam Hosea 6:6: Tuhan menyukai kasih setia dan pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran. Tuhan tidak sedang meniadakan pentingnya ibadah dan persembahan, tetapi menegaskan bahwa semuanya kehilangan makna ketika tidak disertai hati yang setia kepada-Nya. Persoalan kita bukan selalu karena kita tidak mengetahui firman Tuhan, melainkan karena kita mengetahui firman itu tetapi enggan membiarkannya mengoreksi diri kita sendiri. Kita begitu mudah menggunakan firman untuk menasihati orang lain, tetapi sulit menerima teguran bagi diri sendiri. Kita cepat melihat kesalahan sesama, tetapi lambat mengakui kesalahan sendiri. Kita menuntut orang lain berubah, sementara diri kita selalu mempunyai alasan untuk tetap sama. Padahal, firman Tuhan bukan diberikan supaya kita semakin pandai menemukan kesalahan orang lain, melainkan supaya kita semakin berani membereskan kehidupan kita sendiri. Mungkin selama ini kita lebih banyak gagal daripada berhasil dalam mengasihi. Mungkin ada perkataan yang melukai, tanggung jawab yang kita abaikan, hubungan yang kita rusak, atau kebaikan yang seharusnya kita lakukan tetapi terus kita tunda. Namun, firman Tuhan tidak berhenti pada teguran. Hosea 6:1 mengundang kita, “Marilah kita akan berbalik kepada TUHAN.” Artinya, masih ada panggilan untuk bertobat, memperbaiki arah hidup, dan memulai kembali dalam kesetiaan kepada-Nya. Jangan hanya menyesali kesalahan; beranilah berubah. Jangan hanya berjanji menjadi lebih baik; wujudkan melalui tindakan nyata. Mintalah maaf kepada orang yang kita lukai, hadir bagi keluarga yang selama ini kita abaikan, dan ulurkan tangan kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Kita melakukan semua itu bukan untuk membeli kasih Tuhan, melainkan sebagai buah dari iman yang terus diperbarui oleh-Nya. Maka, marilah kita memeriksa diri: jika orang lain melihat kehidupan kita sehari-hari, apakah mereka hanya melihat seseorang yang rajin beragama, atau mereka sungguh-sungguh merasakan kasih Tuhan melalui diri kita? Sebab, Allah menyukai kasih setia: bukan hanya ibadah yang terdengar indah, tetapi kehidupan yang memuliakan-Nya; bukan hanya iman yang pandai berbicara, tetapi iman yang berani berubah. Amin.





