Dipanggil dan dipilih Allah (2 Petrus 1 : 3 – 11)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, melalui 2 Petrus 1:3–11, kita diingatkan bahwa dipanggil dan dipilih Allah bukan sekadar kehormatan untuk dibanggakan, melainkan tanggung jawab untuk dibuktikan melalui kehidupan. Jangan sampai kita sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi karakter kita tidak pernah bertumbuh; sudah berkali-kali mendengar firman, tetapi tetap menyakiti sesama; rajin beribadah, tetapi sulit mengampuni; aktif melayani, tetapi tidak mau menerima teguran. Kita mungkin berhasil membuat orang lain terkesan dengan kerohanian kita, tetapi apakah hidup kita sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur. Jangan ukur kedewasaan iman dari berapa lama kita menjadi Kristen, berapa banyak pelayanan yang kita lakukan, atau seberapa sering kita berada di gereja, tetapi lihatlah apakah kita semakin menyerupai Kristus. Sebab, kita bisa bertambah tua dalam gereja tanpa bertambah dewasa dalam iman; kita bisa semakin sibuk melayani Tuhan, tetapi tetap gagal mengasihi orang-orang yang Tuhan tempatkan paling dekat dengan kita.
Itulah sebabnya Petrus menegaskan agar kita sungguh-sungguh berusaha menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih kepada semua orang. Artinya, iman tidak boleh berhenti sebagai pengakuan; iman harus bergerak menjadi perubahan. Jangan terus bersembunyi di balik kalimat, “Memang saya orangnya begini,” seolah-olah Tuhan tidak sanggup membentuk karakter kita. Jika kita tahu bahwa amarah kita melukai keluarga, belajarlah mengendalikan diri. Jika perkataan kita meruntuhkan orang lain, belajarlah menjaga lidah. Jika kita selalu merasa benar dan sulit ditegur, belajarlah merendahkan hati. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan kita, sementara kita sendiri menolak diubah oleh Tuhan. Ingat, firman yang hanya kita dengar tetapi tidak kita hidupi akan berhenti di telinga; firman yang kita taati akan mulai mengubah kehidupan. Kita tidak berusaha supaya Allah mau memilih kita, sebab panggilan dan pilihan-Nya adalah anugerah. Kita berusaha karena anugerah itu telah kita terima dan kita ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena itu, ketika Petrus berkata, “Berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh,” ia mengajak kita untuk tidak berpuas diri dengan keadaan rohani kita sekarang. Jangan menunggu sampai keluarga kehilangan kepercayaan kepada kita untuk belajar menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Jangan menunggu sampai hubungan hancur untuk belajar mengampuni. Jangan menunggu sampai pelayanan berakhir untuk menyadari bahwa karakter lebih penting daripada sekadar jabatan. Hari ini adalah kesempatan untuk bertumbuh, hari ini adalah waktu untuk berubah, dan hari ini adalah saatnya membuktikan bahwa iman kita sungguh hidup. Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap, tetapi Ia memanggil kita untuk terus bertumbuh, terus berjuang, dan terus membuka diri bagi pembaruan-Nya. Jadi, jangan hanya bangga karena kita dipanggil dan dipilih Allah; hiduplah sedemikian rupa sehingga panggilan itu nyata dalam karakter, pilihan, perkataan, dan tindakan kita. Jangan hanya menjadi orang yang dikenal karena rajin beribadah, tetapi jadilah orang yang kehadirannya membawa kasih, perkataannya membangun, tindakannya mencerminkan kebenaran, dan hidupnya menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah. Sebab, iman yang bertumbuh bukan hanya mengubah cara kita beribadah, tetapi juga mengubah cara kita menjalani kehidupan. Amin.





