Firman Tuhan menjadi Kegirangan bagiku (Yeremia 15 : 15 – 21)

Firman Tuhan menjadi Kegirangan bagiku (Yeremia 15 : 15 – 21)

Ada banyak hal yang dapat membuat kita bergembira: gaji naik, anak berhasil, usaha lancar, rumah semakin baik, pelayanan dihargai, pujian datang, dan orang-orang yang kita kasihi tetap berada di sekitar kita. Semua itu adalah anugerah yang patut disyukuri. Tetapi masalahnya, sukacita yang digantungkan pada keadaan akan ikut naik turun bersama keadaan. Ketika keadaan baik, kita tersenyum; ketika keadaan berubah, hati kita ikut runtuh. Yeremia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia tidak sedang menikmati hidup yang mudah ketika berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku” (Yer. 15:16). Ia sedang berada dalam tekanan, penolakan, kesepian, dan penderitaan. Namun justru di tengah keadaan yang pahit itu, Firman Tuhan menjadi manis bagi jiwanya. Artinya, sukacita sejati bukan berarti kita tidak memiliki masalah; sukacita sejati adalah ketika masalah tidak berhasil merebut Tuhan dari dalam hati kita. Keadaan boleh berubah, manusia boleh mengecewakan, rencana boleh gagal, bahkan air mata boleh jatuh, tetapi ketika Firman Tuhan tinggal di dalam hati, kita masih memiliki alasan untuk berkata, “Aku belum kehilangan pengharapan.”

Tetapi di sinilah kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: Apakah Firman Tuhan sungguh-sungguh menjadi kegirangan bagi kita, atau Firman hanya menjadi sesuatu yang kita dengar setiap minggu? Kita bisa memiliki banyak Alkitab di rumah, tetapi hati tetap kosong dari Firman. Kita bisa rajin datang beribadah, mendengar khotbah, mengikuti PA, bahkan hafal banyak ayat, tetapi kehidupan kita tidak berubah. Kita tahu Firman tentang kasih, tetapi mudah membenci. Kita tahu Firman tentang pengampunan, tetapi menyimpan dendam bertahun-tahun. Kita tahu Firman tentang kejujuran, tetapi masih mencari celah untuk keuntungan diri sendiri. Kita tahu Firman tentang kerendahan hati, tetapi tersinggung ketika tidak dihargai. Masalah terbesar kita bukan kekurangan Firman; masalahnya adalah Firman yang kita dengar belum menjadi Firman yang kita hidupi. Firman dapat berada di tangan tanpa pernah menyentuh hati; dapat terdengar di telinga tanpa pernah mengubah perilaku; bahkan dapat memenuhi kepala tanpa pernah menguasai kehidupan. Karena itu, ukuran kedewasaan iman bukanlah seberapa banyak ayat yang dapat kita ucapkan, melainkan seberapa jauh Firman itu membentuk cara kita berpikir, berbicara, memilih, mengampuni, bekerja, melayani, dan memperlakukan sesama.

Karena itu, “Firman Tuhan menjadi kegirangan bagiku” bukan sekadar kalimat indah, melainkan sebuah pengakuan iman dari seseorang yang menemukan sumber sukacita yang lebih dalam dari pada keadaan. Yeremia menemukan bahwa Firman Tuhan bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dinikmati; bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dihidupi; bukan hanya untuk dibaca ketika membutuhkan pertolongan, tetapi untuk menjadi dasar kehidupan setiap hari. Ketika Firman masuk ke dalam hati, kita belajar melihat kegagalan bukan sebagai akhir, penderitaan bukan sebagai tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita, dan masa depan bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Firman memberi kita sukacita yang tidak bergantung pada apa yang kita miliki, tetapi pada siapa yang memegang hidup kita. Maka pertanyaannya hari ini bukan hanya, “Apakah saya membaca Alkitab?” tetapi jauh lebih dalam: “Apakah saya menikmati Firman Tuhan? Apakah Firman itu menjadi kegirangan hati saya? Apakah ketika hidup saya kehilangan banyak hal, saya masih menemukan sukacita karena Tuhan tetap berbicara kepada saya?” Sebab pada akhirnya, orang yang menjadikan keadaan sebagai sumber sukacita akan mudah kehilangan sukacita ketika keadaan berubah; tetapi orang yang menjadikan Firman Tuhan sebagai kegirangan akan tetap memiliki pengharapan, bahkan ketika hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena di tengah hidup yang sulit, ia masih mendengar suara Tuhan. Amin

Scroll to Top