Segala Perkara dapat ku tanggung di dalam Tuhan (Filippi 4 : 10 – 19)
Surat Filipi ditulis Paulus bukan dari tempat yang nyaman, melainkan dalam keadaan di penjara. Karena itu, ketika Paulus berbicara tentang kekurangan, kelimpahan, kebutuhan, dan pertolongan Tuhan, ia tidak sedang berbicara sebagai orang yang hidup tanpa masalah. Justru di tengah keadaan yang tidak mudah itu Paulus berkata bahwa ia sangat bersukacita dalam Tuhan karena perhatian jemaat Filipi kepadanya kembali bertumbuh. Perhatian itu bukan sekadar perasaan, tetapi kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Jemaat Filipi mengingat Paulus dan mengambil bagian dalam kebutuhannya. Di sini kita melihat bahwa kasih Kristen tidak berhenti pada kata-kata: kasih yang sungguh-sungguh selalu mencari bentuk dalam kepedulian. Jemaat yang dewasa bukan hanya jemaat yang rajin beribadah, pandai bernyanyi, dan banyak berbicara tentang kasih, tetapi jemaat yang peka melihat kesusahan orang lain dan bersedia melakukan sesuatu. Iman yang benar tidak membuat kita semakin sibuk dengan diri sendiri; iman justru membuka mata kita untuk melihat kebutuhan sesama.
Namun Paulus juga menunjukkan integritas yang luar biasa. Ia bersyukur atas pemberian jemaat Filipi, tetapi ia tidak menggantungkan sukacitanya pada pemberian itu. Ia berkata bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Ia tahu apa itu kekurangan dan ia tahu apa itu kelimpahan; ia pernah lapar dan pernah kenyang, pernah berkekurangan dan pernah berkelimpahan. Artinya, kecukupan Paulus tidak ditentukan oleh jumlah yang ada di tangannya, tetapi oleh siapa yang menjadi sumber kekuatannya. Inilah pedagogi rohani yang dalam: Tuhan tidak hanya mendidik kita melalui kelimpahan, tetapi juga melalui kekurangan. Kadang-kadang Tuhan tidak segera mengubah keadaan kita karena melalui keadaan itu Ia sedang membentuk hati kita. Kekurangan mengajar kita bergantung kepada Tuhan, sementara kelimpahan mengajar kita untuk tidak melupakan Tuhan. Sebab persoalan terbesar manusia bukan selalu karena ia memiliki terlalu sedikit, tetapi karena hatinya tidak pernah merasa cukup. Rumah sudah ada, ingin lebih besar; kendaraan sudah ada, ingin lebih mahal; penghasilan meningkat, tetapi keinginan ikut meningkat. Kita terus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, sampai akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai. Kita mempunyai banyak, tetapi hati tetap merasa kurang. Karena itu, yang perlu Tuhan ubah bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi juga hati di dalam diri kita.
Di sinilah kita memahami perkataan Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini bukan berarti bahwa orang percaya akan selalu berhasil mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Paulus tidak sedang berkata, “Dengan Kristus saya pasti kaya, pasti sehat, pasti berhasil, dan semua masalah pasti selesai.” Paulus justru sedang mengatakan bahwa dalam Kristus ia memperoleh kekuatan untuk menghadapi berbagai keadaan: kekurangan maupun kelimpahan, lapar maupun kenyang, kesulitan maupun kecukupan. Jadi, kekuatan dari Kristus bukan terutama kemampuan untuk mengubah semua keadaan sesuai keinginan kita, melainkan kekuatan untuk tetap percaya, tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap berjalan ketika keadaan belum berubah. Mungkin hari ini masalahmu belum selesai. Mungkin doamu belum dijawab seperti yang engkau harapkan. Mungkin keadaan ekonomi masih berat, keluarga masih menghadapi persoalan, pekerjaan belum memberikan kepastian, dan masa depan masih penuh tanda tanya. Tetapi engkau tidak harus menghadapi semuanya seorang diri. Orang Kristen bukanlah orang yang tidak pernah lemah; orang Kristen adalah orang yang tahu kepada siapa ia datang ketika ia lemah. Ketika saya kekurangan, Kristus menguatkan saya. Ketika saya mempunyai kebutuhan, Allah memelihara saya. Ketika saya berkelimpahan, Kristus mengajar saya untuk tetap rendah hati dan tidak diperbudak oleh apa yang saya miliki.
Karena itu, Filipi 4:10–19 bukan hanya berbicara tentang bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kita, tetapi juga tentang bagaimana Tuhan mengubah cara kita menjalani kehidupan. Jika Kristus adalah sumber kecukupan kita, maka kita tidak lagi hidup dengan hati yang terus menuntut lebih, tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, dan tidak menjadikan berkat sebagai ukuran kasih Tuhan. Kita belajar berkata, “Tuhan, cukupkan apa yang sungguh-sungguh saya perlukan dan ajarlah saya menerima kehendak-Mu.” Tetapi kecukupan dari Tuhan juga tidak membuat kita menjadi orang yang hanya menerima. Jemaat Filipi menunjukkan bahwa orang yang telah mengalami kasih Tuhan dipanggil menjadi saluran kasih bagi orang lain. Memberi mendidik hati keluar dari egoisme dan mengingatkan kita bahwa apa yang kita miliki bukan semata-mata untuk diri sendiri. Maka pertanyaan Firman Tuhan hari ini bukan hanya, “Apakah Tuhan sudah mencukupkan hidup saya?” tetapi juga, “Apakah melalui hidup saya Tuhan sedang mencukupkan kehidupan orang lain?” Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak tahu apakah keadaan akan berubah seperti yang kita harapkan. Tetapi kita tahu satu hal: Kristus menyertai kita. Karena itu, apa pun keadaan yang kita hadapi, kita dapat menjalaninya bersama Dia. Bukan karena kita kuat, tetapi karena Dia yang memberi kekuatan. Bukan karena semua perkara menjadi mudah, tetapi karena di dalam Dia kita tidak berjalan sendirian. Amin.





