Karya Allah bagi orang pilihanNya ( Roma 8 : 26 – 30) )
Manusia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mencari kepastian. Kita bekerja keras agar masa depan lebih terjamin, menabung supaya hidup terasa lebih aman, menjaga kesehatan agar umur panjang, membangun relasi agar tidak berjalan sendirian, dan mengejar pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Namun, perjalanan sejarah manusia terus membuktikan satu kenyataan yang tidak dapat disangkal: tidak ada satu pun kepastian yang benar-benar dapat dijamin oleh manusia. Hari ini seseorang dapat tersenyum karena keberhasilan, tetapi esok hari ia dapat menangis karena kehilangan. Hari ini tubuh terasa sehat dan kuat, besok bisa terbaring di rumah sakit. Hari ini keluarga masih berkumpul lengkap di satu meja, tetapi besok salah satu kursi itu mungkin telah kosong. Dunia menawarkan begitu banyak harapan, tetapi tidak pernah mampu memberikan kepastian yang sejati. Di tengah kenyataan itulah muncul pertanyaan yang paling mendasar bagi setiap orang percaya: Jika segala sesuatu dapat berubah, adakah sesuatu yang tidak pernah berubah? Jika hidup ini dipenuhi ketidakpastian, di manakah kepastian iman kita berpijak?
Paulus menjawab pertanyaan itu dengan sangat tegas dalam Roma 8:26–30. Ia tidak mengarahkan jemaat untuk mencari kepastian pada diri sendiri, sebab manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas. Ia juga tidak mengarahkan mereka kepada keadaan, karena keadaan selalu berubah. Bahkan Paulus tidak pernah menjanjikan bahwa orang percaya akan terhindar dari penderitaan. Sebaliknya, ia mengangkat pandangan jemaat kepada Allah yang berdaulat, Allah yang tetap bekerja ketika manusia tidak lagi mampu berbuat apa-apa, Allah yang tetap setia ketika manusia mulai goyah, dan Allah yang tetap memegang umat-Nya ketika hidup terasa berada di luar kendali. Tujuan utama Roma 8:26–30 bukan sekadar memperkenalkan doktrin keselamatan atau memenuhi pikiran jemaat dengan konsep-konsep teologis yang indah. Paulus menulis bagian ini untuk menanamkan kepastian iman yang sanggup bertahan di tengah badai kehidupan. Jemaat di Roma hidup di bawah tekanan, ketidakpastian, dan ancaman penderitaan. Karena itu, Paulus tidak memberikan mereka janji bahwa hidup akan menjadi lebih mudah. Ia justru memberikan sesuatu yang jauh lebih besar: jaminan bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja bagi orang-orang yang menjadi milik-Nya.
Ketika tubuh mulai lemah, Roh Kudus tetap menjadi Penolong yang berdoa bagi mereka dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ketika jalan hidup tampak berliku dan sulit dipahami, Allah sedang merangkai setiap peristiwa menurut hikmat dan rencana-Nya yang sempurna. Bahkan ketika masa depan terlihat gelap dan harapan manusia seolah telah habis, Allah telah lebih dahulu melihat akhir perjalanan umat-Nya, yaitu menjadi serupa dengan Kristus dan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya yang kekal. Dengan demikian, Roma 8 tidak mengajarkan bahwa orang percaya akan terbebas dari penderitaan, tetapi menegaskan bahwa tidak ada satu pun penderitaan yang mampu menggagalkan tujuan Allah atas hidup mereka. Keselamatan tidak dimulai oleh keputusan manusia, tidak dipelihara oleh kekuatan manusia, dan tidak disempurnakan oleh usaha manusia. Keselamatan dimulai oleh kasih karunia Allah, dipelihara oleh kuasa Roh Kudus, dan disempurnakan oleh kesetiaan Allah sendiri. Jika keselamatan bergantung pada manusia, maka tidak seorang pun akan sanggup bertahan. Namun karena keselamatan bergantung kepada Allah yang tidak pernah gagal, pengharapan orang percaya tidak akan pernah dapat dihancurkan.
Karena itu, ketika Saudara pulang dari ibadah ini, mungkin masalah Saudara belum selesai. Penyakit mungkin belum disembuhkan. Pergumulan keluarga mungkin belum berakhir. Air mata mungkin masih terus mengalir. Keadaan mungkin belum berubah. Namun pulanglah dengan satu keyakinan yang tidak boleh tergoyahkan: Allah masih bekerja. Roh Kudus masih menopang. Kristus masih memegang hidup Saudara. Dan Bapa di surga tidak pernah sekalipun membatalkan rencana-Nya atas orang-orang yang dikasihi-Nya. Sebab pada akhirnya, bukan penderitaan yang akan menulis kalimat terakhir dalam kehidupan orang percaya. Bukan dosa. Bukan kegagalan. Bukan Iblis. Bahkan bukan kematian. Kalimat terakhir hidup orang percaya selalu ditulis oleh Allah sendiri. Dan ketika Allah menuliskan kalimat terakhir itu, isinya bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan. Bukan keputusasaan, melainkan pengharapan yang sempurna. Bukan kehancuran, melainkan pemulihan. Bukan penghukuman, melainkan pembenaran. Bukan air mata, melainkan sukacita yang kekal. Bukan akhir, melainkan awal kehidupan yang tidak akan pernah berakhir di dalam hadirat Allah.
Itulah kepastian yang tidak dapat diberikan oleh dunia, tetapi dijamin oleh Allah sendiri. Sebab Dia yang telah memilih, memanggil, membenarkan, juga akan memuliakan umat-Nya. Dan apa yang telah dimulai oleh Allah, tidak akan pernah dibiarkan-Nya berhenti di tengah jalan. Karena itu, peganglah janji-Nya, hiduplah dalam pengharapan, dan berjalanlah dengan iman. Sebab Allah yang memegang hidup kita tidak pernah gagal menyelesaikan karya-Nya. Amin.





