Mataku tetap terarah kepada Tuhan ( Mazmur 25 : 15 – 22 )

Mataku tetap terarah kepada Tuhan (Mazmur 25 : 15 – 22)

Daud berkata, “Mataku tetap terarah kepada TUHAN” (Mazmur 25:15), bukan karena hidupnya sedang baik-baik saja, tetapi justru karena hidupnya sedang berada dalam tekanan. Ia berbicara tentang kesesakan, kesukaran, kesepian, dosa, dan musuh. Daud mempunyai banyak alasan untuk takut, tetapi ia tidak membiarkan ketakutan menentukan arah pandangannya. Inilah kekuatan iman: iman bukan berarti kita tidak mempunyai masalah, tetapi iman menentukan kepada siapa kita memandang ketika masalah datang. Kita pun hidup dalam dunia yang penuh kebisingan—berita, media sosial, persoalan ekonomi, konflik, tuntutan hidup, dan berbagai kekhawatiran. Jika mata kita terus tertuju kepada masalah, hati kita akan dipenuhi ketakutan; tetapi ketika mata iman kita diarahkan kepada Tuhan, kita belajar melihat bahwa sebesar apa pun masalah yang ada di depan kita, Tuhan tetap lebih besar daripada masalah itu.

Daud tidak mengatakan bahwa ia tidak melihat masalah; ia melihatnya dengan sangat jelas. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam kesesakan, merasa kesepian, dan berhadapan dengan orang-orang yang memusuhinya. Namun Daud belajar membedakan antara melihat masalah dan menyerahkan hidup kepada masalah. Kita boleh melihat kenyataan, tetapi jangan membiarkan kenyataan menjadi penguasa hati kita. Kita boleh menangis, tetapi jangan kehilangan pengharapan. Kita boleh merasa takut, tetapi jangan menjadikan ketakutan sebagai penentu keputusan. Kita boleh mengakui bahwa jalan di depan kita sulit, tetapi jangan menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja. Jangan hanya melihat apa yang sedang terjadi; lihatlah juga siapa yang tetap hadir di tengah apa yang sedang terjadi. Ketika manusia tidak memahami kita, Tuhan tetap mengetahui hati kita. Ketika kita merasa sendirian, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, jangan biarkan kesepian membawa kita mencari tempat bersandar yang salah. Bawalah kesepian, luka, ketakutan, dan pergumulan kita kepada Tuhan, sebab kepada-Nyalah Daud mengarahkan matanya.

Mengandalkan Tuhan juga bukan berarti kita berhenti berusaha. Mata kepada Tuhan, kaki tetap berjalan. Kita tetap bekerja, tetapi kita menyadari bahwa kekuatan kita berasal dari Tuhan. Kita tetap membuat rencana, tetapi kita menyerahkan masa depan kepada Tuhan. Kita tetap menghadapi persoalan, tetapi kita tidak menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri. Iman bukan pengganti tanggung jawab; iman memberi kita kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan pengharapan. Ada keadaan yang dapat kita ubah melalui usaha, ada keadaan yang harus kita hadapi dengan kesabaran, dan ada keadaan yang pada akhirnya harus kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Karena itu, ketika kita tidak mampu mengendalikan keadaan, jangan berpikir bahwa kita tidak mempunyai pilihan. Kita mungkin tidak dapat menentukan apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi kita masih dapat menentukan ke mana mata hati kita diarahkan. Arah mata menentukan arah langkah; ketika mata terus tertuju kepada ketakutan, langkah menjadi ragu-ragu, tetapi ketika mata tertuju kepada Tuhan, kita memperoleh keberanian untuk terus melangkah.

Mungkin hari ini kita tidak dapat mengubah semua keadaan. Kita tidak dapat menghentikan semua masalah, mengendalikan semua perkataan orang, atau mengetahui apa yang akan terjadi besok. Tetapi satu hal tetap dapat kita lakukan: tetap memandang Tuhan. Jangan biarkan masalah yang besar membuat Tuhan terlihat kecil dalam hidup kita. Jangan biarkan pintu yang tertutup membuat kita berpikir bahwa Tuhan tidak memiliki jalan lain. Jangan biarkan doa yang belum terjawab membuat kita menganggap Tuhan tidak mendengar. Daud mengajarkan bahwa pengharapan tidak selalu berarti kita sudah melihat jalan keluar; pengharapan berarti kita tetap percaya kepada Tuhan sekalipun jalan keluar belum terlihat. Masalah boleh berada di depan mata, tetapi Tuhan harus tetap berada di pusat pandangan iman kita. Sebab ketika mata tetap terarah kepada Tuhan, keadaan mungkin belum langsung berubah, tetapi hati kita tidak lagi kehilangan arah. Karena itu, marilah kita membawa pengakuan Daud menjadi pengakuan iman kita sendiri: “Mataku tetap terarah kepada TUHAN.” Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena kita percaya bahwa dalam keadaan apa pun, Tuhan tetap dapat kita andalkan. Amin.

Scroll to Top