Memuliakan Allah dalam segala Hal ( Titus 2 : 1 – 10 )

Memuliakan Allah dalam segala Hal (Titus 2 : 1 – 10)

Jemaat yang dikasihi Tuhan, persoalan jemaat bukan sekadar kurang pengetahuan agama. Mereka mungkin mendengar Firman, mengenal ajaran tentang Tuhan, bahkan dapat berbicara tentang iman, tetapi persoalannya adalah ketika kehidupan tidak lagi sesuai dengan iman yang mereka akui. Karena itu Paulus mengingatkan dalam Titus 1:16, “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia.” Inilah persoalan yang serius: mulut mengatakan percaya, tetapi hidup tidak menunjukkan kepercayaan; bibir mengatakan Tuhan adalah sumber berkat, tetapi cara memperoleh berkat tidak selalu jujur; kita mengatakan Tuhan mengajarkan kasih, tetapi masih mudah membenci; kita mengatakan Tuhan mengampuni, tetapi menyimpan dendam; kita mengatakan semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, tetapi ketika Tuhan memberkati, kita hanya memikirkan diri sendiri. Karena itu Titus 2:1 berkata, “Beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” Ajaran yang sehat bukan hanya ajaran yang benar di kepala, tetapi ajaran yang turun ke hati, membentuk karakter, lalu terlihat dalam kehidupan. Gereja adalah tempat kita mendengar Firman, tetapi kehidupan sehari-hari adalah tempat kita membuktikan bahwa Firman itu benar-benar hidup di dalam diri kita.

Karena itu, Pesta Gotilon tidak boleh hanya menjadi perayaan tentang berapa banyak hasil yang berhasil kita kumpulkan, tetapi harus menjadi kesempatan untuk bertanya: “Selain hasil pekerjaan, apakah kehidupan kita juga menghasilkan buah?” Kita dapat mempunyai banyak hasil secara ekonomi, tetapi sedikit buah dalam karakter. Kita dapat mempunyai rumah yang semakin baik, tetapi kasih di dalam rumah semakin berkurang. Kita dapat mempunyai usaha yang semakin besar, tetapi kejujuran semakin kecil. Kita dapat mempunyai berkat yang semakin banyak, tetapi kemurahan hati semakin sedikit. Kita dapat membawa persembahan ke gereja, tetapi kehidupan kita di luar gereja tidak mencerminkan ucapan syukur kepada Tuhan. Padahal Titus 2:1–10 justru menunjukkan bahwa iman harus masuk ke seluruh kehidupan: kepada orang tua, kaum ibu, orang muda, keluarga, pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari. Itulah sebabnya tema kita “Memuliakan Allah dalam Segala Hal” bukan sekadar kalimat yang indah. Artinya, cara kita bekerja memuliakan Allah, cara kita memperlakukan keluarga memuliakan Allah, cara kita menggunakan uang memuliakan Allah, dan bahkan cara kita memberikan persembahan juga harus memuliakan Allah.

Maka hari ini kita sampai pada makna Pesta Gotilon yang lebih dalam. Tuhan tidak berhenti memelihara kehidupan kita. Kita menanam, tetapi Tuhan memberikan pertumbuhan; kita bekerja, tetapi Tuhan memberikan kekuatan; kita berusaha, tetapi Tuhan membuka jalan; kita menerima penghasilan, tetapi Tuhan yang memungkinkan tangan kita tetap bekerja. Karena itu kita datang bukan karena Tuhan membutuhkan pemberian kita, melainkan karena kita membutuhkan kesempatan untuk mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Persembahan bukan pembayaran kepada Tuhan atas berkat yang kita terima. Persembahan adalah ungkapan syukur bahwa kita menyadari siapa sumber kehidupan kita. Karena itu jangan memberikan persembahan hanya berdasarkan pertanyaan, “Berapa yang masih tersisa untuk saya?” Tetapi beranilah bertanya, “Dari segala yang Tuhan percayakan kepada saya, apa yang dengan sukacita dan sungguh-sungguh dapat saya persembahkan bagi kemuliaan-Nya?” Pesta Gotilon mengajar kita untuk tidak takut memberi, sebab kita memberi bukan karena Tuhan akan menjadi lebih kaya, tetapi karena melalui pemberian itu kita sedang belajar menjadi manusia yang bersyukur, percaya dan murah hati.

Sebab pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukan hanya persembahan terbaik dari tangan kita, tetapi kehidupan terbaik dari diri kita. Ketika kita memberikan persembahan dengan hati yang bersyukur, kita sedang mengatakan: “Tuhan, berkat yang Engkau berikan tidak berhenti pada diriku. Aku mau mengembalikannya untuk kemuliaan-Mu.” Itulah iman yang hidup: bukan hanya tahu bahwa Allah adalah sumber berkat, tetapi berani mempercayakan kembali sebagian dari berkat itu kepada-Nya. Maka hari ini jangan biarkan rasa takut, perhitungan yang berlebihan, atau keterikatan kepada harta membuat kita lupa kepada Sang Pemberi. Berilah yang terbaik, bukan karena jumlahnya harus sama, tetapi karena hati kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan. Sebab Pesta Gotilon bukan hanya tentang membawa hasil panen ke altar; Pesta Gotilon adalah tentang membawa hati yang berkata, “Tuhan, segala yang ada padaku berasal dari-Mu, dan melalui apa yang Engkau percayakan kepadaku, aku mau memuliakan Engkau dalam segala hal.” Amin.

Scroll to Top