Teguh Berpegang pada Kebenaran ( Efesus 4 : 7 – 16 )

Teguh Berpegang pada Kebenaran ( Efesus 4 : 7 – 16 )

Suara Siapa yang Kita Dengarkan? Pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar, “Apakah saya masih percaya kepada Tuhan?”, tetapi jauh lebih dalam: “Apakah kebenaran Tuhan masih menjadi dasar yang menentukan cara saya berpikir, berkata, dan menjalani hidup?” Kita hidup di zaman ketika begitu banyak suara berebut masuk ke dalam hati kita: suara media sosial, lingkungan, opini manusia, kepentingan pribadi, gengsi, ketakutan, bahkan suara yang mengatakan bahwa yang benar adalah apa yang populer dan yang baik adalah apa yang menguntungkan. Kita masih bisa datang ke gereja, berdoa, bernyanyi, dan melayani, tetapi tanpa sadar cara berpikir kita justru lebih banyak dibentuk oleh dunia daripada oleh firman Tuhan. Masalah terbesar kita bukan kekurangan suara, tetapi kehilangan kepekaan untuk membedakan suara mana yang benar. Karena itu Paulus mengingatkan agar kita tidak lagi menjadi seperti anak-anak yang “diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran” (Ef. 4:14). Iman yang dewasa bukan iman yang tidak mendengar suara lain, tetapi iman yang mampu mendengar banyak suara tanpa kehilangan suara Kristus sebagai dasar hidupnya.

Karena itu, teguh berpegang pada kebenaran berarti memiliki dasar yang tidak mudah digeser oleh perubahan zaman. Ketika pendapat manusia berubah, kita tidak ikut kehilangan arah; ketika sesuatu yang salah menjadi populer, kita tidak serta-merta menganggapnya benar; ketika kebenaran tidak menguntungkan kita, kita tidak menjualnya demi kepentingan pribadi. Paulus berkata, “dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus” (Ef. 4:15). Perhatikan, kebenaran dan kasih tidak boleh dipisahkan. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan, tetapi kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi kompromi. Orang yang sungguh-sungguh berpegang pada kebenaran tidak menjadi semakin sombong dan merasa paling benar; sebaliknya, ia semakin rendah hati, semakin mampu mengasihi, semakin dewasa dalam iman, dan semakin menyerupai Kristus. Sebab tujuan kebenaran bukan sekadar membuat kita tahu apa yang benar, tetapi membuat hidup kita berjalan di dalam kebenaran.

Maka Efesus 4:7–16 mengajak kita untuk memeriksa kembali fondasi kehidupan kita: apa yang sebenarnya sedang membentuk kita? Apakah firman Kristus, atau suara dunia? Apakah kebenaran Tuhan, atau kepentingan diri sendiri? Kita boleh hidup di zaman yang berubah, menggunakan teknologi yang berkembang, mendengar berbagai pendapat, dan berhadapan dengan berbagai pemikiran, tetapi jangan sampai dunia mengubah dasar iman kita. Kristus telah memberikan karunia kepada setiap orang untuk membangun tubuh-Nya, dan seluruh kehidupan gereja diarahkan kepada satu tujuan: bertumbuh menjadi dewasa dan semakin menyerupai Kristus. Karena itu, jangan hanya menjadi orang yang datang ke gereja, tetapi jadilah orang yang bertumbuh di dalam Kristus; jangan hanya mengenal kebenaran, tetapi hiduplah dalam kebenaran; jangan hanya mendengar banyak suara, tetapi kenalilah suara Kristus dan tetaplah berpegang kepada-Nya. Sebab ketika segala sesuatu di sekitar kita berubah, kebenaran Kristus tetap menjadi dasar tempat kita berdiri.Amin.

Scroll to Top