Tenanglah, Jangan Takut (Matius 14 : 22 – 33)

Tenanglah, Jangan Takut (Matius 14 : 22 – 33)

Ketakutan terbesar kita bukanlah ketika badai datang, melainkan ketika badai membuat kita tidak lagi mampu mengenali Tuhan yang sedang datang kepada kita. Badai memang menakutkan. Angin bertiup kencang, gelombang meninggi, malam semakin gelap, dan perahu terus terombang-ambing di tengah danau. Para murid berada dalam keadaan yang tidak berdaya. Mereka tidak tahu kapan badai itu akan berhenti dan tidak tahu bagaimana mereka dapat keluar dari keadaan tersebut. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada badai itu sendiri. Bukan semata-mata karena mereka berada di tengah badai, melainkan karena ketakutan membuat mereka tidak mampu mengenali Yesus yang sedang datang kepada mereka. Matius 14:26 berkata, “Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka menjadi takut dan berkata: ‘Itu hantu!’” Betapa ironisnya, yang datang kepada mereka adalah Yesus, tetapi yang mereka lihat justru ancaman; yang sedang mendekati mereka adalah pertolongan, tetapi yang mereka rasakan justru ketakutan.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika hati dikuasai ketakutan, kita tidak selalu mampu melihat kenyataan sebagaimana adanya. Ketakutan dapat mengubah cara kita memandang keadaan, bahkan dapat membuat kita salah memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Murid-murid sebenarnya sudah mengenal Yesus. Mereka telah melihat kuasa-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, dan mengalami penyertaan-Nya. Namun ketika badai datang dan mereka berada dalam keadaan tertekan, mereka tetap tidak mampu mengenali Dia. Bukankah hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan kita? Ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika doa belum juga terjawab, ketika harapan yang kita bangun tiba-tiba runtuh, atau ketika jalan yang kita harapkan justru tertutup, kita mulai bertanya, “Tuhan, di manakah Engkau?” Kita melihat persoalan yang besar lalu menyimpulkan bahwa Tuhan sedang jauh. Kita melihat doa yang belum terjawab lalu mengira Tuhan tidak mendengar. Kita melihat penantian yang panjang lalu merasa Tuhan tidak peduli. Kita melihat pintu yang tertutup lalu berpikir Tuhan telah meninggalkan kita. Padahal, kita harus berhati-hati, sebab bisa jadi bukan Tuhan yang menjauh, melainkan ketakutan kita yang membuat kita tidak mampu mengenali kehadiran-Nya.

Karena itu, ketika murid-murid ketakutan, Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata terlebih dahulu, “Tenanglah, karena badai akan segera berhenti.” Badai itu masih ada. Angin masih bertiup dan gelombang masih menerpa perahu. Namun Yesus berkata, “Aku ini.” Seolah-olah Yesus sedang mengingatkan mereka bahwa dasar ketenangan mereka bukanlah keadaan yang tenang, melainkan kehadiran-Nya di tengah keadaan yang tidak tenang. Inilah yang sering kita lupakan. Kita ingin tenang setelah masalah selesai, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk menemukan ketenangan karena Dia hadir bahkan ketika masalah belum selesai. Kita sering berkata, “Tuhan, ubahlah keadaan supaya aku tenang,” tetapi melalui firman ini Tuhan seolah berkata, “Percayalah kepada-Ku, maka engkau dapat tetap tenang sekalipun keadaan belum berubah.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mungkin hari ini kita juga sedang berada di tengah badai kehidupan. Ada yang sedang bergumul dengan keluarga, ada yang sedang memikirkan masa depan, ada yang sedang menghadapi persoalan ekonomi, ada yang sedang menunggu jawaban doa, ada yang sedang menghadapi pergumulan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Kita mungkin tidak tahu kapan badai itu akan berhenti dan mungkin kita juga belum melihat jalan keluar. Bahkan mungkin kita mulai bertanya, “Tuhan, apakah Engkau masih bersama saya?” Tetapi firman Tuhan hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali. Jangan hanya melihat besarnya badai, tetapi lihatlah siapa yang datang di tengah badai itu. Jangan hanya menghitung seberapa besar persoalan kita, tetapi ingatlah seberapa besar Tuhan yang memegang kehidupan kita. Jangan hanya bertanya kapan badai akan berhenti, tetapi belajarlah percaya bahwa selama badai itu berlangsung, Tuhan tetap bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita. Amin.

Scroll to Top